Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 20 Sep 2019 19:31 WIB

Pengusaha Beras Ketan Hitam Targetkan Ekspor Hingga 200 Ton di 2019

Faidah Umu Sofuroh - detikFinance
Foto: Dok Kementan Foto: Dok Kementan
Jakarta - Eksportir yang bergerak di perberasan menyebutkan pangsa pasar beras ketan hitam organik Indonesia masih terbuka luas. Oleh karena itu, pengembangan budidaya beras tersebut memiliki potensi besar untuk kebutuhan ekspor.

Demikian disampaikan eksportir PT Sejati Makmur, Cecep yang rutin mengekspor beras ketan hitam sejak 2011 ke Singapura. Ia menyampaikan hal itu saat kunjungan kerja Direktur Jenderal (Dirjen) Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi di Desa Cipeujeuh Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung.

Cecep mengungkapkan pada September ini perusahaannya telah mengekspor 22,5 ton beras ketan hitam ke Singapura. Sedangkan target tahun ini, ia ingin bisa mengekspor hingga 200 ton seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Selama ini saya ambil dari Cipinang harganya Rp 21.000 per kg, baru kita packing kemasannya," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Jumat (20/9/2019).


Beras ketan hitam di Bandung, kata Cecep, terkenal terbaik karena wanginya. Meskipun dari segi bentuk memang lebih kecil dibandingkan produksi dari Garut. Namun pihaknya kadang melakukan mix antara Garut dan Bandung, karena memang pasar luar suka bulir yang mengkilap dan besar .

"Untuk mendukung hal tersebut, di Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan, red) setidaknya harus ada color sorter yang bisa menyaring warna dan polisher untuk mengkilapkan," ujarnya.

Ketertarikan akan beras ketan hitam juga diungkapkan oleh Lewi dari PT Profil Mitra Abadi. Menurutnya, selama ini memang pasar Eropa mulai berminat ke produk organik.

"Jadi karena di sekitar sini (Kecamatan Pacet, Bandung, red) sudah banyak praktek budidaya organik alangkah bagusnya kalo ketan hitam di sini juga organik," tuturnya.

Lewi menjelaskan, tren di Eropa sekarang ini ingin mengkonsumsi karbo yang nongluten, salah satunya ketan hitam. Oleh karena itu, cecep juga ingin mengembangkan olahan ketan hitam menjadi produk ekspor.

"Ini menarik sekali, rengginang ini bisa jadi crackers yang sehat dan nongluten. Akan lebih baik dibandingkan olahan tepung," jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Suwandi menyebut bahwa Kementan saat ini sebagai penjembatan antara petani dan eksportir agar bisa memperpendek rantai pemasaran. Oleh sebab itu, ia meminta petani bermitra dan diperluas pasarnya.

"Harga ketan hitam sudah tinggi dan bagus, tinggal benahi profesionalitas kelompok taninya," sebutnya.


Masih di tempat yang sama, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat, Hendi Jatnika menyambut baik apa yang diinginkan para eksportir. Bahkan pihaknya berencana mengembangkan beras khusus, seperti beras organik, beras hitam, beras merah, basmati dan japonica.

"Mitra sudah datang, tinggal bagaimana memperpendek jalur pemasaran," katanya.

Perlu diketahui petani di Kabupaten Bandung ada luas pertanaman beras ketan hitam sekitar 840 hektare dengan varietas lokal. Provitas rata-rata tercatat 5,5 ton sampai 7 ton per hektare. Harga saat ini sekitar Rp 8.000 gabah kering panen dan harga berasnya Rp 20.000 per kilogram.

Simak Video "Berorientasi Ekspor, Jokowi Goda China untuk Investasi"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com