Pedagang Pasar Tanah Abang Keluhkan Serbuan Tekstil Impor

Pedagang Pasar Tanah Abang Keluhkan Serbuan Tekstil Impor

- detikFinance
Sabtu, 29 Okt 2005 14:43 WIB
Jakarta - Serbuan tekstil dari Cina, India dan Thailand, telah membuat pedagang di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, yang masih setia menjual produk lokal, kehilangan omset hingga 50 persen.Masa kejayaan yang sempat dirasakan pada periode 1996-1999 tertebas dengan masuknya produk impor yang berkeliaran di pasar dengan harga yang lebih murah. Perbandingan tesktil, contohnya dari India, hanya sebesar Rp 3.500 per meter, jauh lebih murah ketimbang tekstil Indonesia yang mematok harga Rp 7.000 per meter. Pedagang tekstil berharap pemerintah memberikan perhatian khusus seperti membatasi masuknya impor barang dan dilakukannya safe guard untuk melindungi tekstil lokal."Kita minta persaingan wajar, masa kita bayar pajak tapi produk dalam negeri tidak diproteksi. Harusnya pasar Indonesia yang besar ini bisa dinikmati pedagang lokal," kata Robert Kanapex, pemilik Toko Buana Talimas Tekstil yang sudah membuka kios selama 20 tahun di Pasar Tanah Abang.Robert merupakan salah seorang pedagang yang mengeluhkan masalah ini kepada Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu ketika melakukan kunjungan kerja ke Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu (29/10/2005).Dalam penilaian Robert, pemerintah di negara mana pun selalu memonitor pasar dalam negerinya agar produk lokal tidak terdistorsi barang impor. "Coba lihat sekarang, secara kasat mata saja volume impor sudah sangat tinggi. Pemerintah bisa melakukan safe guard dan kuota impor untuk proteksi industri dalam negeri," tambah Robert.Menanggapi hal tersebut, Mari menjelaskan, pemerintah tidak bisa melakukan kuota impor dan hanya bisa melakukan intervensi untuk produk impor ilegal. Jika melakukan proteksi tekstil legal, Indonesia justru akan terkena sanksi World Trade Organizations (WTO). "Yang bisa dilakukan adalah pengenaan jalur merah untuk tekstil dan produk tekstil (TPT)," jelas Mari kepada para pedagang. Sedangkan Hanafi, pemilik Toko Laris Jaya yang memiliki enam kios, mengakui, penjualan lebaran tahun ini paling sepi dibandingkan lebaran sebelumnya.Menurut Hanafi yang sudah berjualan di Pasar Tanah Abang selama 10 tahun, pada masa kejayaan tekstil lokal tahun 1996-1999 omset pedagang dalam satu hari bisa mencapai Rp 35 juta. Penjualan menjelang lebaran pada masa itu juga bisa naik hingga 100 persen.Sementara tahun ini, omset harian pedagang hanya sebesar Rp 3 juta dan omset menjelang lebaran mencapai Rp 15 juta. Namun omset penjualan lebaran kali ini diakui lebih rendah 50 persen dibanding lebaran tahun lalu. (ir/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads