Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 24 Sep 2019 17:46 WIB

Singgung Kasus Thomas Cook, PM Inggris Tanya Kenapa Bos Dibayar Mahal?

Desi Yolanda Tarigan - detikFinance
Foto: Alamy via thesun.co.uk Foto: Alamy via thesun.co.uk
Jakarta - Setelah perusahaan wisata Inggris Thomas Cook gulung tikar, ratusan ribu penumpang terbengkalai dan menggantungkan nasib pada pemerintah Inggris agar bisa memulangkan mereka.

Tepat di hari Senin waktu setempat, diumumkan bahwa Thomas Cook bangkrut karena gagal mencapai kesepakatan dengan kreditur.

Dengan cadangan kas perusahaan yang terkuras, Kepala Eksekutif Thomas Cook Group, Peter Fankhauser mengungkap bahwa pemberi pinjamannya tidak lagi mau masuk. Fankhauser telah memperoleh pendapatan 8,3 juta pound (US$ 10,3 juta), termasuk 4,3 juta pound pada tahun 2015.

Kondisi itu dianggap murni kesalahan kebijakan yang diambil oleh manajemen perusahaan. Pemerintah Inggris pun mengatakan tidak mau "membuang uang baik untuk hal buruk" untuk menanggung jaminan yang diperlukan perusahaan.


Perdana Menteri Inggris Boris Johnson bertanya, kenapa negara harus bertanggungjawab atas sebuah tindakan yang diambil seorang direktur perusahaan yang sudah dibayar mahal.

Dengan bayaran mahal, apakah para pemimpin perusahaan tersebut tak punya strategi pencadangan dana untuk mencegah kebangkrutan sejak awal?

Padahal menurutnya, sebuah perusahaan harusnya memiliki semacam asuransi atau dana cadangan untuk penanganan bencana yang bisa sewaktu-waktu terjadi.

"Anda perlu memiliki beberapa sistem yang bisa digunakan oleh perusahaan untuk memastikan mereka bisa bertahan terhadap kemungkinan seperti ini (kebangkrutan)," tutur dia seperti dikutip dari reuters, Selasa (24/9/2019).





Simak Video "Media Inggris Sebut Boris Johnson Jabat Perdana Menteri"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com