Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 25 Sep 2019 12:54 WIB

Perang Dagang AS-China Masih Bergulir, Ekonomi RI Bisa Apa?

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Country Director ADB Winfried F. Wicklein/Foto: Eduardo Simorangkir/detikcom Country Director ADB Winfried F. Wicklein/Foto: Eduardo Simorangkir/detikcom
Jakarta - Asian Development Bank (ADB) merevisi proyeksi ekonominya untuk Indonesia tahun ini ke 5,1% dari sebelumnya 5,2%. Risiko eksternal menjadi pengaruh terhadap proyeksi perekonomian Indonesia, di antaranya ketegangan perdagangan global antara Amerika Serikat (AS)-China dan melemahnya momentum perdagangan di sejumlah negara utama dunia.

"Pemerintah perlu mencanangkan program reformasi perbaikan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi," kata Country Director ADB Winfried F. Wicklein di The Plaza Office Tower, Jakarta, Rabu (25/9/2019).

Dia bilang, Indonesia harus tetap melanjutkan Iangkah-Iangkah reformasi guna mendiversifikasi perekonomiannya. Hal ini demi meraih peluang terkait perubahan rantai pasokan global yang saat ini mulai terjadi.


Diketahui, telah terjadi peralihan perdagangan dari China menuju negara Iain di kawasan Asia yang sedang berkembang, seperti Vietnam dan Bangladesh. Untuk itu Indonesia masih harus terus berbenah agar bisa ikut merebut investasi yang berubah haluan.

"Diperlukan investasi yang Iebih kuat untuk mendorong pertumbuhan, dengan fokus pada daya saing dan pengembangan sumber daya manusia sebagai kuncinya," kata Winfried.

Meski demikian, investasi diperkirakan akan terus membaik menjelang akhir tahun, seiring dengan kemajuan pembangunan proyek-proyek strategis nasional. Pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) baru-baru ini juga berpeluang memberikan suntikan tenaga bagi pertumbuhan kredit.


Dengan perbaikan pada sejumlah regulasi terkait investasi, investasi swasta diharapkan membaik seiring dengan ekspektasi berbagai kebijakan reformasi baru untuk meningkatkan iklim usaha dan mempercepat modernisasi perekonomian.

Belanja konsumen diharapkan dapat mempertahankan pertumbuhan yang kuat pada tahun ini dan tahun depan, ditopang oleh naiknya pendapatan rumah tangga, pertumbuhan lapangan kerja, dan inflasi yang rendah. Inflasi kemungkinan akan tetap stabil sebesar 3,2% tahun ini dan 3,3% pada 2020.

"Konsumsi yang kuat akan membuat Indonesia mampu meneruskan pertumbuhan ekonominya baik tahun ini dan tahun depan," kata Winfried.

Simak Video "Jokowi Antisipasi Dampak Perang Dagang AS-China"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com