Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 28 Sep 2019 13:10 WIB

Ada Bank Satu-satunya di Miangas, Nelayan Jadi Bisa Transfer Uang

Faidah Umu Sofuroh - detikFinance
Foto: Muhammad Ridho Foto: Muhammad Ridho
Miangas - Di Miangas, Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, sebagian besar penduduk menggantungkan hidupnya pada laut. Penghuni pulau terdepan Indonesia itu menganggap laut sebagai sumber kehidupan. Oleh karena itu, Anda bisa dengan mudah menemukan penduduk yang berprofesi sebagai nelayan.

Salah satunya adalah Kamurahan Hama, 45 tahun, yang tinggal pada sebuah rumah sederhana di sisi selatan pulau. Kepada detikcom, ia mengaku telah melaut sejak umurnya belum genap 10 tahun.

Dahulu, ayahnya sering mengajaknya mencari ikan di luar waktu sekolah. Kebiasan itu berlanjut hingga ia beranjak dewasa, menikah pada 1995 dan punya empat orang putri.


Bermodalkan pumpboat (perahu kecil) buatannya sendiri, Kamurahan biasa berlayar sejak pukul 3 dini hari. Dari pantai, dibutuhkan waktu sekitar satu jam ke tempat ikan berkumpul.

Setelah sampai di titik tujuan, ia akan mulai menebar jaring dan memancing selama dua jam. Pukul enam pagi, tak peduli seberapa banyak tangkapan, ia harus kembali pantai sebelum laut pasang.

"Kadang enggak dapat banyak, kalau cuaca bagus kadang dapat bisa sampai 30 ekor rata-rata. Kalau berangkat jam tiga pagi itu, kalau di Manado namanya ikan sarania, ikannya warna merah," tutur Kamurahan beberapa waktu lalu.

Jika hasil tangkapan melimpah, beberapa ekor akan ia jual ke warga. Satu ekor ikan seberat 8 kilo biasa dilego seharga Rp 65.000. Sementara jika hasilnya sedikit, ikan-ikan itu akan dikonsumsi sendiri dan dijadikan stok untuk beberapa hari ke depan.

Jadi nelayan memang tidak mudah. apalagi jika cuaca di laut sedang buruk. Pumpboatnya hanya akan tersandar di pesisir pantai dan tak ada ikan yang bisa dibawa pulang.

Namun, Kamurahan tetap bersyukur atas rezeki yang telah diberikan Tuhan padanya. Berkat kerja keras, diterpa angin laut dini hari, ia bisa menyekolahkan kedua anaknya hingga perguruan tinggi.

Bahkan putri pertamanya, yang bernama Syznta sudah duduk di bangku semester 7 di salah satu universitas di Manado.

"Sebentar lagi anak saya yang pertama itu lulus kuliah, jadi sarjana," ucapnya bangga.


Tentu suatu kebanggaan bagi Kamurahan dapat menyekolahkan anaknya hingga jenjang perguruan tinggi. Ia bercerita bahwa tak mudah melewati ini semua.

Terutama saat sang putri meminta kiriman uang bulanan. Ia harus menitipkannya ke orang yang berangkat ke Manado melalui kapal Perintis yang memakan waktu berhari-hari.

Namun, semenjak kehadiran Bank BRI di Miangas, ia tak perlu repot-repot menitipkan uang di kapal. Anak keduanya pun kini tengah menjajaki kehidupan awal perkuliahan di Makassar. Beruntung kini ada BRI yang bisa membantunya mengirimkan uang untuk bekal sang anak menuntut ilmu di pulau seberang.

"Sekarang tinggal transfer saja langsung sampai," ujarnya.

Ia berharap Bank BRI terus maju supaya masyarakat salah satu pulau terdepan Indonesia ini tetap mudah untuk menabung atau mengirim dan menerima uang dari sanak saudara yang ada di luar kampung. "Lebih bagus lagi kalau ada mesin ATM," harapnya.

detikcom bersama Bank BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan. Untuk mengetahui informasi dari pulau-pulau terdepan Indonesia, ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!

Simak Video "Dari Kami Untuk Mereka di Tapal Batas"
[Gambas:Video 20detik]
(ujm/ujm)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com