Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 29 Sep 2019 16:58 WIB

Ancaman Resesi Dinilai Makin Dekat, Bagaimana di RI?

Herdi Alif Alhikam - detikFinance
Foto: agung pambudhy Foto: agung pambudhy
Jakarta - Pertumbuhan ekonomi yang melemah pada suatu negara sedang terjadi belakangan ini. Baik negara maju maupun berkembang beberapa sudah menunjukkan angka pelemahan pada perekonomiannya.

Sebelumnya, sudah ada lima negara besar yang terancam terjun ke jurang resesi. Mulai dari Inggris, Italia, Jerman, Singapura, hingga Hong Kong.

Karena hal tersebut, ancaman resesi kian dekat makin banyak digaungkan. Lantas, bagaimana dengan Indonesia, apakah resesi membayangi perekonomiannya?

Wakil Ketua Umum Bidang Moneter, Fiskal, dan Kebijakan Publik Raden Pardede menilai tanda-tanda resesi belum terlihat di Indonesia. Namun, dia mengingatkan perlambatan perekonomian global memang nyata terjadi dan Indonesia tidak akan kebal terhadap hal tersebut.


"Kami belum melihat tanda resesi terjadi di Indonesia, namun perlambatan ekonomi dunia yang mengarah ke resesi akan berpengaruh dan harus diwaspadai, Indonesia tidak akan kebal terhadap perlambatan ekonomi dunia ini," kata Raden kepada detikcom, Minggu (29/9/2019).

Raden menyatakan Indonesia harus bersiap diri. Pemerintah diminta membuat kebijakan mencegah perlambatan ekonomi. Semua pihak pun diminta saling dukung dalam mengantisipasi ancaman resesi.

"Perlu sedia payung sebelum hujan, dan ada kebijakan mencegah perlambatan ekonomi secara drastis. Semua pihak harus saling mendukung, dan kompak apalagi dalam situasi seperti ini," tegas Raden.


"Semua pihak, dunia usaha, pemerintah, komunitas, para politisi harus saling mendukung untuk mengantisipasi hal ini," lanjutnya.

Melihat kondisi saat ini, Indonesia memang masih amat jauh dari yang namanya resesi. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip dari CNBC Indonesia, perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 4,2% secara kuartalan pada kuartal II-2019.

Adapun secara kumulatif, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi RI di kuartal II 2019 hanya 5,05% secara tahunan atau melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, 5,27%.




Simak Video "BKPM Patok Harga Nikel Dalam Negeri US$ 30 Per Metrik Ton"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com