Jumlah Pengangguran Terbuka Naik Menjadi 10,84%
Selasa, 01 Nov 2005 12:44 WIB
Jakarta - Kenaikan harga BBM pada awal Maret dan Oktober 2005 telah memicu naiknya tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 10,84 persen pada Oktober ini.Angka ini lebih tinggi dibandingkan TPT Februari 2005 sebesar 10,26 persen dan TPT Agustus 2004 sebesar 9,86 persen."Penambahan penganggur dalam periode ini termasuk yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) atau kehilangan pekerjaannya sebagai dampak kenaikan harga BBM pada awal Maret 2005 maupun awal Oktober 2005, namun tidak termasuk yang telah mendapatkan pekerjaan lagi," kata Ketua Badan Pusat Statistik (BPS) Choiril Maksum dalam jumpa pers di kantor BPS, Jalan Dr Sutomo, Jakarta, Selasa (1/11/2005).Sedangkan selisih perkiraan jumlah penganggur dengan memperhitungkan dampak kenaikan harga BBM pada awal Maret 2005 dan awal Oktober 2005, mencapai 426 ribu orang."Artinya kenaikan harga BBM berpotensi menciptakan tambahan pengangguran baru sebesar 426 ribu," ujar Choiril.Jumlah angkatan kerja pada Oktober 2005 diperkirakan mencapai 106,9 juta orang. Bertambah 1,1 juta orang dibanding Februari 2005 yang sebesar 105,8 juta orang atau bertambah 2,9 juta orang dibanding Agustus 2004 yang sebesar 104,0 juta orang.Sedangkan jumlah penduduk yang bekerja pada Oktober 2005 diperkirakan mencapai 95,3 juta orang, bertambah 400 ribu orang dibanding Februari 2005 sebesar 94,9 juta orang atau bertambah 1,6 juta orang dibanding Agustus 2004 yang sebesar 93,7 juta orang."Dengan demikian, tingkat pengangguran terbuka Oktober 2005 diperkirakan sebesar 10,84 pesen," ungkap Choiril.Kenaikan harga BBM pada awal Maret 2005 dan awal Oktober 2005 yang cukup signifikan diduga telah menyebabkan terjadinya sejumlah PHK, terutama di sektor industri padat karya, seperti industri tekstil, alas kaki, dan makanan.Selain itu, pengangguran juga terjadi pada usaha-usaha kecil yang menggunakan BBM sebagai penunjang kegiatan utamanya, seperti nelayan.Namun menurut Choiril, penduduk yang kehilangan pekerjaan akibat PHK tidak semuanya menjadi penganggur dalam waktu yang lama. Sebagian besar dapat bekerja kembali di sektor yang lebih mudah dimasuki, seperti sektor informal, karena tuntutan kebutuhan hidup.
(ir/)











































