googletag.defineSlot('/4905536/detik_desktop/finance/pop_ups', [785, 440], 'div-gpt-ad-1574092191519-0').addService(googletag.pubads());
ADVERTISEMENT
Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 07 Okt 2019 14:36 WIB

Si Miskin Makin Boros, Si Kaya Makin Pelit

Danang Sugianto - detikFinance
Ilustrasi Foto: Pradita Utama Ilustrasi Foto: Pradita Utama
Jakarta - Pertumbuhan ekonomi yang terjadi belasan tahun Indonesia memang mampu menurunkan angka kemiskinan. Namun hal itu tak mampu berimbas besar pada rasio ketimpangan atau gini ratio.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), gini ratio pada 2004 berada di level 0,32. Kemudian terus meningkat hingga 2014 berada di posisi 0,41. Setelah itu cenderung menurun hingga pada 2018 berada di posisi 0,39.

Menurut Arif Budimanta, dalam bukunya yang berjudul Pancasilanomics: Jalan Keadilan dan Kemakmuran, pertumbuhan ekonomi berkelanjutan selama 15 tahun bisa mengurangi kemiskinan dan mendorong perkembangan kelas menengah. Sayangnya selama itu juga ternyata menguntungkan 20% penduduk terkaya.

"Sisanya tertinggal dalam mengakses dan menikmati hasil pembangunan," tulis Arif.


Kelompok miskin maupun kaya secara nyata menikmati peningkatan pengeluaran. Namun peningkatan pengeluaran tidak merata untuk seluruh kelompok masyarakat.

Arif menilai ketimpangan dari sisi pendapatan akan lebih buruk. Alasannya bukan karena si kaya semakin kaya dan si miskin makin miskin, tapi lantaran orang miskin semakin boros yang membelanjakan hampir seluruh pendapatannya, sedangkan orang kaya lebih memilih menabung atau berinvestasi.

Bagi penduduk kelas bawah pendapatan mengalami penurunan jika kenaikan inflasi tak terkendali. Sehingga juga berimbas pada penurunan konsumsi.



Si Miskin Makin Boros, Si Kaya Makin Pelit


Simak Video "Tempat Orang Kaya Belanja Fesyen Top Harga ‘Receh' di Dekat Paris"
[Gambas:Video 20detik]
(das/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com