Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 10 Okt 2019 19:07 WIB

Menhub Sebut Transportasi di Ibu Kota Baru Ramah Lingkungan

Nurcholis Ma - detikFinance
Foto: Kemenhub Foto: Kemenhub
Jakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan pembangunan infrastruktur transportasi di ibu kota baru akan memperhatikan isu lingkungan. Pembangunannya akan mengedepankan transportasi massal yang berteknologi tinggi dan ramah lingkungan yang diterjemahkan dalam konsep 'Smart City, Smart Mobility'.

"Mengingat Kalimantan Timur sebagai paru-paru dunia, ibu kota baru didesain sebagai Forest City yang mengusung konsep modern, smart dan green city, memakai energi baru dan terbarukan, dan tidak bergantung pada energi fosil atau Forest City," ucap Budi dalam keterangan tertulis, Kamis (10/10/2019).

Hal tersebut disampaikannya dalam acara Forum Perhubungan: Transportasi Massal Di Ibu Kota Baru, Seperti Apa? di Jakarta, pada Kamis (10/10/2019). Menurut Budi, desain kota harus menjaga keseimbangan antara tata guna lahan, sistem transportasi, dan laju pertumbuhan penduduk.


Budi juga menjelaskan, aksesibilitas merupakan hal utama penentu keberhasilan terbangunnya suatu ibu kota baru. Pasalnya di ibu kota baru ini para Aparatur Sipil Negara (ASN) dan masyarakat yang nantinya akan menempati berharap tidak menemui kemacetan dan polusi yang mengganggu kesehatan.

"Tugas dari kita (pemerintah) agar merencanakan dengan baik, kalau kita bicara mengenai satu fungsi kota tertentu, maka transportasi begitu penting. Yang terpenting dalam membangun kota itu adalah aksesibilitas. Hal tersebutlah yang menjadi kunci keberhasilan semuanya," terang Budi.

Sementara itu, Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor menjelaskan, isu lingkungan ini memang menjadi perhatian utama. Isran mengatakan telah menyiapkan 366.000 hektare untuk pembangunan ibu kota baru yang di dalamnya ada kawasan hutan lindung yang bukan untuk dirusak, melainkan dipelihara.

"Soal lingkungan itu referensi utama dalam membangun sebuah kegiatan terutama dalam menciptakan ibu kota baru. Karena lingkungan itu, kita diawasi oleh dunia internasional dan kebutuhan kita sendiri. Semua kaidah lingkungan mulai pembangunan ibu kota negara itu dan di sana memang ada kawasan hutan lindung dan itu akan dipelihara maka dari itu dimasukkan ke dalam kawasan," ungkap Isran.

Sedangkan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kementerian Perhubungan Sugihardjo menjelaskan, konsep transportasi 'Smart City, Smart Mobility' di ibu kota baru. Menurutnya, ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan transportasi, yaitu pergerakan di dalam kota dan pergerakan konektivitas regional (antarkota/antarwilayah).

"Kita optimalkan bandara yang ada baik bandara Balikpapan maupun yang di Samarinda. Di Balikpapan nanti kapasitas terminalnya jadi 30.000 penumpang dan runway-nya menjadi 3250 x 60 meter," ucap Sugihardjo.

"Di Bandara Samarinda juga ditingkatkan kapasitasnya menjadi 20.000 penumpang untuk pergerakan masyarakat umum. Sedangkan untuk pergerakan tamu negara nanti akan ada bandara khusus agar tidak mengganggu penerbangan reguler," imbuhnya.


Untuk angkutan laut, kata Sugihardjo, di Kalimantan Timur memiliki beberapa pelabuhan seperti Pelabuhan Semayang, Pelabuhan Kariangau, dan Pelabuhan KKT. Pelabuhan ini bisa dijadikan tempat distribusi logistik, bisa juga membangun teluk yang ada di sana dengan pendekatan smart and eco friendly.

"Beruntung sekali dengan lokasi yang ditetapkan ini ada teluk Balikpapan itu. Kalau seluruh Kalimantan yang paling ideal untuk pelabuhan itu Balikpapan. Kalau Pontianak ada penangkalan, kalau dipinggir laut itu ombaknya tinggi. Teluk itu ombaknya tidak ada. Ini akan menjadi distribusi logistik baik di Semayang, Kariangau, KKT," tandas Sugihardjo.

Simak Video "Meninjau Ibu Kota Baru Berbasis Smart City dan Eco Friendly"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com