Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 14 Okt 2019 19:11 WIB

Kemenkeu Ajak Civitas Akademika UPN Kawal Pelaksanaan APBN

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Foto: Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Foto: Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan
Jakarta -
Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan gelar kegiatan InFest 2019 di Yogyakarta. Hal ini dilakukan untuk memberikan pemahaman mengenai pengelolaan APBN dan pembiayaan APBN yang dimanfaatkan secara produktif untuk memberikan kemaslahatan bagi masyarakat di seluruh tanah air.

Rangkaian InFest 2019 hari di awali dengan kegiatan Forum Group Discussion dalam rangka kerja sama edukasi DJPPR dan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta dengan tema diskusi, 'Determinants Of Rep Indonesia's Local Currency (LCY) Government Bonds Yield'.

Kepala Subdirektorat Pengembangan Pengelolaan Pembiayaan, DJPPR Kemenkeu Suharianto mengajak masyarakat khususnya para peserta diskusi agar dapat menyampaikan pendapatnya secara terbuka terkait penelitian perbaikan yield LCY yang telah Kementerian Keuangan lakukan.

"Kita, Kementerian Keuangan, sadar bahwa yield LCY kita lebih tinggi dari beberapa negara, namun kita juga lebih baik di bandingkan negara yg lain. Seandainya faktor penentu telah bersama kita temukan, maka kita dapat memperbaiki faktor tersebut sehingga diharapkan ada perbaikan yield LYC ke depannya," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (14/10/2019).

Kemudian agenda berikutnya dilanjutkan dengan kuliah umum yang dibuka oleh Dekan FEB UPN Veteran, Dr Winarno, MM, dan dihadiri oleh 200 peserta dari kalangan Dosen dan Mahasiswa UPN Veteran. Dalam penutupannya, Winarno mengajak agar peserta mengingat kembali amanat para pendiri bangsa yang tertuang dalam konstitusi negara ini.

"Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Maka dari itu pemerintah berkomitmen untuk menjaga APBN agar mampu menjadi alat pendorong terwujudnya cita-cita mulia ini," jelasnya.

Adapun Endah Martiningrum selaku pembicara tunggal memberikan gambaran fundamental terkait perekonomian Indonesia peran pembiayaan dalam pembangunan Indonesia dan pembiayaan APBN 2019.

Endah mengatakan bahwa di tengah kondisi global yang kurang menguntungkan Indonesia diharapkan mampu mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang terkendali.

Untuk itu dalam rangka menghadapi risiko di tahun 2019, Pemerintah mengkonstruksi APBN 2019 yang sehat, adil, dan mandiri melalui defisit APBN tahun 2019 diarahkan semakin menurun yaitu 1,84% PDB, keseimbangan primer menurun semakin mendekati positif.

"Peran APBN sebagai alat stimulus fiskal saat ini sangat besar dan penting untuk mendorong ekonomi Indonesia tetap tumbuh di tengah kondisi ketidakpastian ekonomi global dan menurunnya pertumbuhan ekonomi dunia," ungkapnya.

Melalui kuliah umum tersebut diharapkannya mampu meningkatkan pemahaman mahasiswa dan civitas akademika lain tentang peranan pembiayaan APBN, pengelolaannya dan pemanfaatannya sehingga bisa bersama-sama mengawal dan untuk membantu dan meningkatkan kualitas pengelolaan keuangan negara.
(ujm/ujm)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com