Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 15 Okt 2019 13:08 WIB

Film Teranyar BUMN 'Si Unyil' Sepi Penonton, Perusahaan Tekor?

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Lutfi Syahban Foto: Lutfi Syahban
Jakarta - Perum Perusahaan Film Negara (PFN) pada Maret 2019 telah mengeluarkan Kuambil Lagi Hatiku pada Maret 2019. Itu merupakan film pertama BUMN ini setelah vakum sekitar 26 tahun.

Direktur Komersial dan Pemasaran PFN Elprisdat mengakui memang film perdana perusahaan setelah tidur panjang masih jauh dari kata sempurna. Terlihat dari jumlah penonton yang masih sedikit.

"Memang secara komersial itu film menguntungkan karena ada support dari BUMN. Tapi secara bisnis kurang, dijumlah penonton kurang," ujarnya dalam acara Ngobrol Pagi Seputar BUMN, di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (15/10/2019).

El mencatat, penonton film Kuambil Lagi Hatiku selama penayangan di bioskop hanya sekitar 25 ribu tiket. Angka itu masih jauh dari harapan yang mencapai 400 ribu tiket.

Untungnya PFN sebagai perusahaan berpelat merah mendapatkan sponsor dari BUMN lainnya untuk film itu sekitar Rp 12 miliar. Artinya di film itu PFNa bukan hanya sudah balik modal, tapi juga dapat untung.


"Itu belum OTT (layanan over the top) belum TV, ini kan belum kita jual inventarisnya. Jadi asetnya masih ada. Investasi sudah kembali. Jadi artinya di film sekarang itu, anda gagal di bioskop belum tentu mati," tambahnya.

Memang, kata El, kinerja film di bioskop menjadi penentu sebuah perusahaan film bisa meraup untung. Jika di bioskop laku keras, maka nilai jual film itu di channel distribusi lainnya akan meningkat.

Untungnya PFN selaku BUMN memiliki banyak relasi untuk mendapatkan sponsor. Jadi ketika memproduksi film tak khawatir merugi.

Dalam 3 tahun ke depan PFN menargetkan bisa memproduksi 20 film. Film-film itu sebagian besar berasal dari cerita film yang dulu sudah dimiliki perusahaan, seperti Si Unyil The Movie, Lima Menerjang Badai, Sabai Nan Aluih dan lainnya.

Untuk mengejar target itu, PFN membuka kolaborasi, bukan hanya dengan BUMN lainnya tapi juga dengan pihak swasta. Menurut Elprisdat dari 20 film di pipeline itu separuhnya sudah mendapatkan partner seperti PT Balai Pustaka, PT Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), PT Ideosource dan Dante Sinema.


Dapat Modal Hampir Rp 1 T

PFN mendapatkan sokongan dana hampir Rp 1 triliun dari PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan PT Waskita Karya Tbk. Elprisdat menjelaskan creative hub sendiri nantinya akan menjadi pusat kreatif khususnya di bidang perfilman. Mulai dari persiapan produksi, hingga pasca produksi ada di tempat itu nantinya. Bahkan creative hub akan menyiapkan SDM dengan adanya sekolah vokasi perfilman.
"Jadi kita menyiapkan studio untuk shooting, kemudian fasilitas post production, sekolah vokasi, lalu di atas nya kita mediasi untuk film investment. Kemudian nanti ada bioskop. Nanti supportingnya di situ juga akan dibangun mall, kemudian ada hotel, ada sekolahnya," ujarnya.
Creative hub ini akan dibangun di kantor PFN saat ini yang berada di Jalan Raya Otista Jakarta Timur. Di tempat itu perusahaan memiliki lahan sekitar 2,4 hektare (ha). Sekitar 2 ha akan dipakai untuk pembangunan creative hub itu.
PFN sudah mengantongi dana untuk membangun creative hub sekitar hampir Rp 1 triliun. Dana itu berasal dari WIKA dan Waskita.
Pembangunannya sendiri akan mulai dilakukan tahun depan. Ditargetkan bisa selesai dibangun dan mulai beroperasi pada 2023.



Simak Video "Eks Dirut BRI Tolak Dirombak Jadi Bos BTN"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com