Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 18 Okt 2019 12:55 WIB

Moeldoko Beberkan Alasan Jokowi Tak Pernah Capai Target Ekonomi

Vadhia Lidyana - detikFinance
Foto: Andhika Prasetia/detikcom Foto: Andhika Prasetia/detikcom
Jakarta - Kepala Staf Presiden Moeldoko membeberkan alasan mengapa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) tak pernah mencapai target pertumbuhan ekonomi.

Menurut Moeldoko, perlambatan ekonomi global yang disebabkan salah satunya oleh perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China memberikan efek yang cukup signifikan terhadap jalannya ekonomi Indonesia.

"Kalau menurut saya bagaimana kondisi lingkungan strategis itu sangat berpengaruh. Kita tidak hidup di ruang hampa, tetapi kita hidup di ruang yang saling interdependensinya (ketergantungan) tinggi. Sebagai contoh bahwa trade war yang terjadi antara Amerika dengan China ini yang menjadi salah satu yang menyebabkan pertumbuhan kita terganggu," terang Moeldoko di kantor staf presiden, Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (18/10/2019).

Selain itu, Moeldoko menyampaikan bahwa faktor internal yang menyebabkan pemerintahan Jokowi-JK tak pernah capai target pertumbuhan ekonomi adalah rumitnya prosedur investasi di Indonesia.

"Faktor internalnya, Presiden sangat memahami bahwa berbagai regulasi telah membelenggu kita dalam konteks memberikan kemudahan investasi. Untuk itu Presiden kemarin bekerja keras dengan para Menteri untuk menginventarisasi berbagai regulasi yang sungguh-sungguh menghambat investasi," jelas Moeldoko.



Kemudian, kata Moeldoko, penurunan harga komoditas di pasar global juga menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tak capai target.

"Komoditas ekspor kita juga terganggu. Tadinya sebelum 2015, harga komoditas kita batu bara bagus, kelapa sawit bagus, dan komoditas yang lain. Sekarang ini hampir semua komoditas turun harganya karena pengaruh dunia. Sehingga ini yang akan mempengaruhi pertumbuhan dan juga yang lain," papar dia.

Namun, menurut Moeldoko, di tengah ketidakpastian tersebut, Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang stabil.

"Di tengah ketidakpastian, ekonomi Indonesia bisa tumbuh stabil pada level 15 plus, dan menjadi salah satu yang terbaik di antara negara-negara G20. S&P Global mengatakan, pertumbuhan GDP global per kapita Indonesia impressive, 4,1% per tahun selama 10 tahun terakhir dibandingkan dengan rata-rata negara lain dengan tingkat pendapatan yang sama yaitu 2,2%," imbuhnya.

Selain itu, ia juga memamerkan soal penurunan angka kemiskinan, ketimpangan, pengangguran, dan inflasi. Sehingga, ia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berkualitas walaupun tak capai target.

"Inflasi terjaga rata-rata di level 3,2% per tahun. Pengangguran turun 6,28% di tahun 2018, jadi 5,01% di 2019. Kemiskinan juga turun menjadi di bawah 10% atau di bawah satu digit dan tren ketimpangan bisa dibalik dari meningkat menjadi menurun," ungkapnya.



Simak Video "Sandi: Pemerintah Terjebak Dalam Pertumbuhan Ekonomi 5%"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com