Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 22 Okt 2019 14:29 WIB

Perjanjian Dagang RI dengan 15 Negara Bisa Dongkrak Ekspor 22%

Vadhia Lidyana - detikFinance
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Perjanjian dagang Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang melibatkan 16 negara yang terdiri dari 10 negara ASEAN, dan 6 negara dari Asia Pasifik diprediksi mendongkrak ekspor Indonesia sebesar 8-11% di 5 tahun pertama dan 18-22% di 5 tahun selanjutnya.

"Dari segi perdagangan 5 tahun pertama Indonesia entry to force, melaksanakan perjanjian ini, 5 tahun pertama ekspor kita bisa meningkat sekitar 8-11%. Setelah 5 tahun pertama tadi, kita bisa meningkat lebih tajam lagi 18-22% itu kalau didukung oleh investasi yang masuk," tutur Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional (PPI) Kemendag Iman Pambagyo di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (22/10/2019).

Dalam RCEP ini memang ada tiga sektor yang termasuk dalam perjanjian dagang yakni sektor perdagangan barang, jasa, dan investasi. Untuk investasi sendiri, kata Iman, Indonesia masih perlu memberikan kepastian hukum terhadap para investor.

"Kalau investasi itu banyak faktor bisa masuk di Indonesia. Jadi investasi asing itu bisa masuk di Indonesia tidak hanya melihat pasar di Indonesia besar. Tapi juga faktor lainnya yang berkaitan dengan pasar itu sendiri. Kepastian peraturan perundang-undangan itu yang menjadi banyak pertanyaan investor asing," terang Iman.


Meski begitu, ia mengungkapkan, kalkulasi di atas merupakan prediksi pada 2013-2016. Angka tersebut keluar pada saat perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China belum terjadi.

"Itu hitungan 2013-2016. Ini kan sekarang ada trade war. Trade war pada tahap pertama itu nggak mengganggu Indonesia, karena forwarding cage kita dengan AS dan China itu kecil indeksnya. Artinya produk yang digunakan tarif tinggi oleh AS dan China itu input darI Indonesia kecil, begitu pun sebaliknya," papar dia.

Sehingga, di tahap atau gelombang kedua trade war yang berdampak pada banyak negara, kemungkinan bisa merubah prediksi tersebut.

"Gelombang kedua kan diperlebar, sudah mulai beberapa produk di Indonesia terkait di situ, dan itu tak hanya di Indonesia tetapi negara-negara lain juga yang ekspornya besar ke China atau ke AS juga kena. Itu yang membuat kemudian global trade diprediksi akan menurun," ucap dia.

Ia mengkhawatirkan, nantinya daya beli masyarakat menurun akibat dikenakannya tarif besar dari China maupun AS.

"Desember tahun lalu itu diprediksi 3,7% growth-nya global trade tahun ini. Saya ragu, mungkin hanya 2,4-2,6%. itu hanya prediksi. Tapi begitu trade war melebar, makin banyak negara yang terdampak. Kalau terdampak berarti daya beli menurun karena ada sektor yang nggak bisa tumbuh, lay off, dan seterusnya," imbuh Iman.


Sebagai informasi, RCEP hingga saat ini masih dalam status berunding atau belum memasuki tahap implementasi. Rencananya, untuk penandatanganan kesepakatan RCEP ini dilaksanakan pada November 2020. Namun, untuk entry to force atau implementasi perjanjian dagang, ia pun belum mengetahuinya.

"Jadi ini harus melalui proses legal scrubbing kemudian beberapa negara termasuk Indonesia itu memerlukan translasi ke bahasa Indonesia. Kalau berkasnya sudah selesai dilegal scrubbing dan akan diterjemahkan ke bahasa nasional masing-masing negara. Insyaallah November 2020 akan di tanda tangani oleh para menteri. Untuk entry to force kapan kita belum tahu. Sejujurnya legal scrubbing tahun depan juga sangat sulit," tutupnya.

Negara-negara yang tergabung dalam RCEP ini yakni Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, Vietnam, Myanmar, Kamboja, Brunei Darussalalam, Laos, China, Jepang, Korea Selatan, India, Australia, dan Selandia Baru.

Simak Video "Anggota DPR Nilai Janggal Rencana Impor Beras"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com