Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 04 Nov 2019 18:14 WIB

Sri Mulyani Akui Penerimaan Negara Masih Seret

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Istimewa Foto: Istimewa
Jakarta - Di tengah ketidakpastian global yang memberikan dampak terhadap perekonomian Indonesia, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku bahwa penerimaan negara masih dalam masa sulit. Padahal kinerja APBN 2019 hanya menyisakan satu bulan lagi.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan ketidakpastian global memberikan dampak pada beberapa sektor industri di tanah air. Beberapa industri yang terdampak merupakan salah satu penyetor besar penerimaan negara.

"Artinya kalau perusahaan mengalami tekanan, sehingga penerimaan atau lebih mereka menurun, maka pembayaran pajak mereka juga akan menurun," kata Sri Mulyani di ruang rapat Komisi XI DPR, Jakarta, Senin (4/11/2019).


Sayangnya, Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini tidak menyebutkan berapa penerimaan negara yang sudah dikantongi Pemerintah hingga saat ini. Target penerimaan negara ditargetkan Rp 2.165,1 triliun di tahun 2019. Tercatat, Pemerintah telah mengumpulkan penerimaan sebesar Rp1.189,28 triliun hingga Agustus 2019. Jumlah ini setara dengan 54,93 persen dari target.

"Kita lihat setiap sektor mengalami pelemahan akibat dari ekonomi tersebut. Industri manufaktur bahkan mengalami growth negatif dari sisi penerimaan pajak," jelas dia.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan hingga akhir September 2019 atau kumulatif, beberapa realisasi penerimaan pajak dari industri pengolahan turun 3,2 persen menjadi Rp 245,6 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Realisasi penerimaan pajak dari sektor konstruksi dan real estat turun 1,2 persen atau menjadi Rp 56,2 triliun. Selanjutnya, sektor pertambangan yang turun 20,6 persen menjadi Rp 43,2 triliun. Sedangkan sektor perdagangan menyetor Rp 176,2 triliun atau melambat 2,8 persen.

Lalu sektor jasa keuangan dan asuranai melambat 4,9 persen menjadi Rp 120,6 triliun. Hanya sektor transportasi yang penerimaannya tumbuh 18,9 persen menjadi Rp 36,3 triliun.

Penerimaan negara semakin seret setelah PNBP juga mengalami penurunan yang cukup besar yakni 9,5 persen hingga akhir September 2019. Setoran PNBP SDA Nonmigas juga mengalami penurunan 9,2 persen.


Sri Mulyani bilang, sumber penerimaan PNBP SDA dikarenakan menguatnya nilai tukar rupiah terhadap solar Amerika Serikat (AS) serta penurunan harga acuan minyak mentah Indonesia (ICP), serta beberapa penurunan harga komoditas seperti batubara.

Tidak hanya itu, ketidakpastian global juga memberikan dampak terhadap aliran modal baik jangka pendek dan menengah masuk ke Indonesia dan juga neraca perdagangan.

"Neraca perdagangan kita sangat dipengaruhi destinasi market, kombinasi harga melemah menjadi terkena dua kali pukulan, terlihat non migas, dan migas bahkan alami defisit perdagangan impor kita melebihi dari ekspor. Sehingga dari neraca migas yang negatif sulit sangat positif, inilah yang mendesari pemerintah melakukan program B20," ungkap dia.

Simak Video "Sri Mulyani: Cukai Rokok Dipakai untuk Tutupi Defisit BPJS Kesehatan"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com