India Mau Cabut dari Perdagangan Regional, Apa Imbasnya Buat RI?

Hendra Kusuma - detikFinance
Rabu, 06 Nov 2019 22:01 WIB
Foto: Internet
Jakarta - India menolak untuk ikut bergabung dalam pakta blok perdagangan utama di Asia Pasifik dalam hal ini Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP). RCEP sendiri merupakan perjanjian antara Asosiasi 10 negara anggota Asia Tenggara dan enam mitra dagang besarnya: China, Jepang, Korea Selatan, India, Australia, dan Selandia Baru.

Negosiasi untuk pakta perdagangan ini telah dimulai sejak 2013 lalu dan keengganan India untuk membuka pasarnya telah menjadi salah satu kendala utama dari waktu ke waktu. Jika India benar menolak, apa imbasnya buat Indonesia?

"Ini menyangkut bukan internal domestik, baik dari produk kan mereka produser terbesar ya. Kita akan melihat ke sana," kata Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto di komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (6/11/2019).

Agus optimis, India masih akan bergabung pada RCEP. Apalagi, dengan salah satu hadirnya India pada acara KTT ASEAN ke-35 di Thailand menjadikan sinyal positif.

"Dengan kehadiran India dalam acara kemarin, itu menandakan keseriusan dia untuk bergabung. Hanya saja, dia akan melihat kepentingan-kepentingan domestiknya. Karena di sini, 15 negara kan sudah banyak yang masuk, besar scope-nya," ujarnya.


Meski demikian, Agus mengaku Indonesia akan mencari jalan khusus agar tetap bisa menjalin hubungan perdagangan dengan India. Hanya saja konsepnya belum diputuskan.

Bahkan, Agus mengungkapkan bahwa Indonesia masih berharap agar India tetap bergabung dalam RCEP.

"RCEP ini kan masih dilanjutkan, kita tidak boleh keluar dari sana. 15 negara juga mengharapkan masuk karena India salah satu pasar besarnya," ungkap dia.

Sebelumnya, diplomat India Vijay Thakur Singh mengatakan bahwa India menyampaikan keputusannya untuk tidak bergabung dengan perjanjian RCEP dengan negara-negara anggota lainnya.

"Ini mencerminkan penilaian kami terhadap situasi global saat ini serta keadilan dan keseimbangan perjanjian, India memiliki masalah signifikan dengan minat inti yang masih belum terselesaikan," kata Vijay Thakur Singh kepada wartawan di Bangkok, sebagaimana dikutip dari CNBC pada Selasa (5/11).



Simak Video "Jokowi: Indonesia-Australia Genjot IA-CEPA Dalam 100 Hari"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/fdl)