ADVERTISEMENT
Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 08 Nov 2019 13:18 WIB

Dari Kulkas hingga Kacamata Halal Bermunculan, Ada Fenomena Apa?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Foto: iStock/China Daily Foto: iStock/China Daily
Jakarta - Produk berlabel halal kini tak cuma ada di makanan. Kosmetik, tas, sepatu, bahkan kacamata ditawarkan ke masyarakat dengan label halal. Pakar pemasaran Yuswohady, fenomena produk halal ini memunculkan nilai baru dalam suatu produk, yakni spiritual value.

Tentunya, kemunculan nilai tersebut disebabkan 89% masyarakat Indonesia adalah masyarakat muslim. Kelompok mayoritas tersebutlah yang menjadi pelanggan setia produk-produk berlabel halal dan menjadikannya kebutuhan dalam keseharian.

"Ada nilai-nilai Islam. Kenapa nilai-nilai islam menjadi penting? Karena 89% konsumen adalah muslim. Dan dari hari ke hari ia makin kaya, makin pintar, makin islami. Jadi dalam hal konsumsi, dia mulai mengkonsumsi produk yang comply dengan ajaran islam. Itu menjadi penting, saya menyebutnya spiritual value," terang Yuswohady kepada detikcom, Jumat (8/11/2019).

Dalam mengkonsumsi suatu produk ada beberapa nilai yang muncul. Pada umumnya fungsional value dan emotional value. Fungsional value adalah produk yang dikonsumsi berdasarkan manfaatnya. Sedangkan, emotional value adalah produk yang dikonsumsi karena dipandang bagus oleh masyarakat lain yang menilai.

"Kalau kita mencari produk dari manfaatnya, itu namanya fungsional value, Kalau kita konsumsi produk karena image-nya itu emotional value. Contohnya beli iPhone itu kan keren, itu namanya emotional value," jelas Yuswohady.

Menurutnya, sejak 10 tahun terakhir masyarakat mulai mengkonsumsi produk-produk yang mengandung spiritual value tersebut.


"Ini yang 10 tahun terakhir menggeliat luar biasa sehingga melahirkan industri-industri, produk-produk yang basis konsumennya muslim," ujar dia.

Lebih mendalam, menurutnya sejak 10 tahun ini masyarakat Indonesia memiliki perubahan gaya hidup yang unik. Masyarakat yang pendapatannya semakin baik, maka ia semakin terdidik, dan terakhir semakin religius.

Tingkat religiusitasnya ini mendominasi ke arah hubungan horizontal dalam ajaran agama Islam, yakni hubungan antara manusia.

"Horizontal itu contohnya riba. Kalau riba itu kan istilah modernnya namanya aset manajemen bagaimana mengatur manajemen tidak ada unsur riba. Terus bagaimana kita berpakaian itu harus pakai hijab, bagaimana kita makan, makanan yang nggak ada najis, dan seterusnya. Sejak 10 tahun terakhir religiusitas itu yang insentif mengalami deepening itu adalah yang horizontal," paparnya.

Seiring meningkatnya religiusitas masyarakat muslim di Indonesia, maka industri baik makanan, pakaian, dan sebagainya yang berbasis islam tentu mengalami peningkatan

"Dulu orang memakai hijab nggak begitu penting, artinya belum deepening. Tetapi karena meningkatnya religiusitas itu menjadi penting. Ketika orang pakai hijab ini kombinasi dengan aspek-aspek globalisasi, digitalisasi dan segala macam. Kemudian hijab nggak cuma kewajiban, tapi ada aspek lifestyle-nya, ada aspek untuk kita bisa tampil lebih cantik. Makanya ada revolusi hijab, ini menuntut customer horizontal tadi, mengandung konsekuensi, maka industri hijab menggeliat," pungkas dia.



Simak Video "Kemenag dan Ombudsman Bersinergi Terkait Jaminan Produk Halal"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com