Daftar Orang Terkaya Asia Tenggara, Utang Bisa Rusak Pertemanan

ADVERTISEMENT

Round-Up 5 Berita Terpopuler

Daftar Orang Terkaya Asia Tenggara, Utang Bisa Rusak Pertemanan

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Sabtu, 09 Nov 2019 20:10 WIB
Daftar Orang Terkaya Asia Tenggara, Utang Bisa Rusak Pertemanan
Foto: Wisma Putra/detikcom

Maraknya produk alat pertanian dari China, yaitu pacul, tak menyurutkan perajin pandai besi yang berada di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat untuk tetap memproduksi alat pertanian.

Pantauan detikcom, Sabtu (9/11/2019) tiga orang perajin pandai besi sedang membuat sebilah golok di bengkel pandai besi milik Enen Junedi (84) yang berada di Kampung Balekambang, Desa Sukamaju, Kecamatan Majalaya.

Enen bersama anaknya Dodo Junaedi (42) bergantian memukul sebilah besi yang akan dijadikan golok menggunakan palu bergantian. Sementara menantunya Tini (38) bertugas mengayunkan sepasang tongkat ububan agar angin keluar dan meniup bara api untuk memanaskan besi yang akan ditempa menjadi golok.

Enen mengatakan, meski sudah banyak beredar alat pertanian dari luar negeri, pihaknya tak takut kehilangan pelanggan. Pasalnya pelanggannya merupakan orang-orang yang sudah setia menggunakan alat pertanian yang dibuat olehnya. Bahkan, permintaannya pun banyak.

"Permintaan petani banyak, beragam peralatan pertanian bisa dibuat di sini. Tergantung permintaan," kata Enen saat ditemui detikcom di bengkel pandai besi miliknya di Jalan Balekambang Majalaya.

Enen mengungkapkan, ia merupakan keturunan ketiga yang memiliki bakat menjadi pandai besi. Bakat pandai besi yang ia punya berasal dari kakek dan ayahnya. Karena usianya sudah tua, bakat pandai besi kini diturunkan kepada anaknya Dodo Junaedi.

"Sudah ada tiga turunan, sejak tahun 1937. Orang tua Iri Barja, sekarang diturunkan kepada anak saya Dodo, ia turunan keempat," ungkapnya.

Ia berujar, alat pertanian yang ia produksi tergantung permintaan pelanggan. Menurutnya, ia tak menyetok alat pertanian yang ia buat. Seperti pacul, ia sudah tak membuatnya lagi, selain harga produksinya mahal, saat ini di pasaran sudah banyak pacul yang memiliki harga lebih murah.

"Alat-alat pertanian, cangkul di sini juga bisa tapi sekarang enggak produksi karena ada di bengkel lain (toko), jadi besi digerat-gerat gitu, bukan dipukul, digunting di pabrikan, kalau di sini kan dipukul," ujarnya.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT