Penjualan Mobil 2006 Diperkirakan Turun Jadi 440 Ribu Unit

Penjualan Mobil 2006 Diperkirakan Turun Jadi 440 Ribu Unit

- detikFinance
Selasa, 15 Nov 2005 17:29 WIB
Jakarta - Tingginya suku bunga dan inflasi akan terus berdampak pada penurunan penjualan mobil nasional tahun 2006. Penjualan mobil terburuk diperkirakan hanya mencapai 440 ribu unit dibandingkan tahun ini yang bisa sebesar 510-530 ribu unit."Untuk tahun depan kemungkinan menurun melihat perkembangan sampai penjualan September-Desember ini hanya 30-40 ribu unit per bulan, sehingga perkiraan terburuk tahun depan hanya mencapai 440 ribu," kata Dirut PT Toyota Astra Motor (TAM) Johnny Dharmawan di sela acara halal bihalal di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (15/11/2005).Menurunnya penjualan itu karena faktor inflasi dan minimnya likuiditas yang dimiliki masyarakat. Apalagi perusahaan pembiayaan yang menjadi motor penggerak industri otomotif kinerjanya juga akan menurun karena kemungkinan akan menaikkan bunga kreditnya 5-6 persen."Inflasi juga diperkirakan masih tinggi sehingga belum tahu kapan pemerintah melepas tight money policy. Sehingga untuk tahun depan, baru bisa diprediksi lebih jelas setelah melihat perkembangan penjualan bulan Maret dan Mei," papar Johnny.Menurutnya, jika penjualan pada Maret sampai Mei tahun depan turun, maka besar kemungkinan penjualan mobil 2006 akan turun. Sebaliknya jika periode itu penjualan tidak turun, maka pada tahun depan penjualan mobil akan tetap atau naik sedikit."Faktor yang bisa memicu penjualan tahun depan tetap atau naik sedikit itu kalau inflasi dan suku bunga menurun dan reshuflle kabinet ditanggapi positif sehingga investasi masuk," tutur Johnny.Untuk tahun ini, Johnny optimistis target penjualan mobil nasional sekitar 510-530 ribu unit bisa tercapai, karena penurunan penjualan akhir tahun ini telah tertutupi penjualan bulan-bulan sebelumnya yang masih tinggi. Sedangkan TAM menargetkan tahun ini bisa menguasai 30 persen pangsa pasar mobil nasional. Sampai akhir tahun, Johnny memprediksi, pangsa pasar penjualan mobil TAM bisa sebesar 30-32 persen, terutama didukung penjualan mobil jenis Multi Purpose Vehicle (MPV) yang relatif stabil.Mengenai kemungkinan TAM menaikkan harga jualnya, Johhny mengaku, pihaknya masih harus melihat kondisi rupiah, suku bunga dan pajak terlebih dahulu. "Kita melihat kondisinya dulu, kalau misalnya banyak yang negatif, kemungkinan dinaikkan. Tapi belum diketahui berapa persen naiknya," ujarnya.Dia juga menegaskan, pihaknya tidak akan melakukan rasionalisasi karyawan meski kondisi ekonomi tak kondusif. "Kalaupun dilakukan itu sebagai langkah terakhir, misalnya kalau produksi hanya 20-30 persen saja," katanya. (ir/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads