Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 10 Des 2019 14:16 WIB

Daya Beli Turun, Indonesia Tertolong Gengsi Orang Kaya Baru

Danang Sugianto - detikFinance
Ilustrasi/Foto: shutterstock Ilustrasi/Foto: shutterstock
Jakarta - Daya beli masyarakat belakangan ini sering dikabarkan menurun. Isu ini cukup penting lantaran daya beli akan mempengaruhi konsumsi masyarakat yang merupakan motor paling besar dari pertumbuhan ekonomi yakni sekitar 50-60%.

Menteri Keuangan Indonesia era 2013-2014 Muhammad Chatib Basri juga melihat adanya penurunan daya beli khususnya di masyarakat pendapatan kelas menengah. Hal itu diakibatkan belum pulihnya aktivitas bisnis.

Namun kondisi ini menurutnya tak perlu dikhawatirkan. Sebab penurunan daya beli di masyarakat kelas menengah membutuhkan waktu untuk mempengaruhi konsumsi. Penyebabnya adalah gengsi.

"Orang kalau sudah sering makan enak untuk sekali saja makan makanan nggak enak butuh waktu. Jadi konsumsi bukan hanya tergantung pendapatan, tapi dari pola konsumsi kita di masa lalu," ujarnya.



Saat ini memang diakuinya terjadi penurunan daya beli. Namun Chatib memprediksi pengaruhnya terhadap konsumsi baru terasa sekitar 2-3 tahun.

"Jadi konsumsi baru akan turun mungkin makan waktu 2-3 tahun. Orang itu gampang kaya maknanya ada OKB (orang kaya baru), tapi sulit untuk miskin. Itu karena dia akan maintenance biar kelihatan kaya terus, padahal pendapatannya turun," terangnya.

Bukti dari gengsi masyarakat kelas menengah Indonesia untuk menjaga citranya sebagai OKB adalah berkurangnya tabungan Rp 100 juta ke bawah di perbankan.

"Saving Rp 100 juta itu turun. Jadi dia ambil tabungannya untuk maintenance konsumsinya," tutupnya.



Daya Beli Turun, Indonesia Tertolong Gengsi Orang Kaya Baru


Simak Video "Raline Shah dan Derby Romero Terhanyut Skenario ''Orang Kaya Baru''"
[Gambas:Video 20detik]
(das/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com