Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 17 Des 2019 16:21 WIB

Barang Impor China Banjiri RI, Hajar Balik Pakai Bea Masuk!

Tim detikcom - detikFinance
Foto: agung pambudhy
Jakarta - Barang-barang impor makin masif menyerbu Indonesia. Banyak dari barang impor ini yang bebas bea masuk sehingga merugikan negara.

Untuk itu, tahun lalu Kementerian Keuangan merilis Peraturan Menteri Keuangan No 112/PMK.04/2018 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan No 182/PMK.04/2016 tentang Ketentuan Impor Barang Kiriman.

Dengan adanya peraturan itu, maka barang bebas bea masuk yang awalnya tidak lebih dari US$ 100 kini menjadi tidak lebih dari US$ 75. Jika harganya di atas US$ 75 maka kena bea masuk.

Tujuan perubahan ini adalah melindungi kepentingan nasional sehubungan dengan meningkatnya volume impor barang melalui mekanisme impor barang kiriman dan mendorong pertumbuhan industri dalam negeri.

Kini, ada wacana pemerintah bakal kembali menurunkan ambang batas tersebut. Kalau diturunkan, maka barang pengiriman yang murah sekali pun bakal kena bea masuk.

"Mungkin kita revisi, karena (batas) US$ 75 mengganggu produk dalam negeri," tegas Menteri Perdagangan Agus Suparmanto, kemarin.

Seperti dikutip dari riset CNBC Indonesia, jika benar pemerintah akan menurunkan ambang batas pengiriman yang kena bea masuk, maka bisa berdampak positif terhadap industri dalam negeri. Impor yang dimudahkan, terutama buat barang konsumsi, menyebabkan persaingan yang tidak sehat yang bisa mematikan industri nasional.

Jika industri nasional mati suri karena terpukul barang impor, maka setiap kenaikan permintaan tidak akan bisa dipenuhi dari dalam negeri. Lagi-lagi harus impor, bahkan untuk barang yang remeh-temeh.


Pembengkakan impor membuat devisa yang 'terbakar' semakin banyak sehingga neraca perdagangan dan transaksi berjalan (current account) tertekan. Akibatnya, fondasi rupiah menjadi rapuh dan mata uang Tanah Air cenderung melemah.

Kala rupiah melemah, Bank Indonesia (BI) tentu tidak tinggal diam. Salah satu upaya yang dilakukan BI adalah menaikkan suku bunga acuan untuk menarik arus modal di sektor keuangan agar bisa menambal 'lubang' yang menganga di pos ekspor-impor barang dan jasa.

Kenaikan suku bunga acuan mungkin bisa menstabilkan rupiah. Namun yang menjadi tumbal adalah konsumsi dan investasi, karena suku bunga kredit perbankan tentu akan ikut terkerek. Biaya ekspansi menjadi mahal, sehingga pertumbuhan ekonomi sulit dipacu lebih kencang.

Jangan sampai semua jadi pedagang barang impor!
Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Cegah Virus Corona, Mendag Perketat Pengawasan Impor dari China"
[Gambas:Video 20detik]
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com