Toko Ritel Berguguran di 2019, Bagaimana Tahun Ini?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Rabu, 01 Jan 2020 09:15 WIB
Ilustrasi/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Tahun 2019 bisa dibilang kelam bagi industri ritel. Bagaimana tidak, sepanjang tahun lalu satu per satu toko ritel mulai berguguran.

Di Indonesia sendiri toko ritel besar sekelas Giant dan Hero menutup banyak tokonya. Dari catatan detikcom, Giant sudah menutup 7 tokonya dan Hero telah menutup 26 cabang tokonya.

Lantas apa yang membuat toko-toko ritel ini tutup?

Berikut informasi selengkapnya >>>



Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey telah terjadi perubahan pola belanja di tingkat konsumen. Konsumen sudah tidak mau lagi berbelanja dalam jumlah besar.

Roy mengatakan kini masyarakat lebih banyak yang belanja sesuai kebutuhan jangka pendek saja. Kebanyakan itu semua sudah bisa dilakukan di mini market atau bahkan warung.

"Jadi pola belanja konsumen berubah, mereka tidak lagi main stocking. Polanya itu membeli sesuai kebutuhan dan keinginan dalam jangka pendek, itu bisa dipenuhi di mini market dan warung sekitar rumahnya," ungkap Roy kepada detikcom, Selasa (31/12/2019).

Sebagai catatan, selama ini ritel yang tutup adalah berskala besar. Roy juga mengatakan kini masyarakat pun sudah tidak ingin lagi belanja di tempat yang besar, karena cukup repot.

Semua tradisi belanja di toko besar sudah mulai dihindari karena membutuhkan waktu untuk mencari parkir, berputar di toko mencari barang, hingga memindahkan barang dari troli. Sebaliknya masyarakat mau yang praktis cukup ke toko kecil belanja seperlunya.

"Jadi memang ada anomali, perubahan bentuk karena pola belanja masyarakat. Mereka sekarang maunya cepat, praktis, nggak habiskan waktu. Bahkan beberapa dari kita juga mulai berikan fasilitas delivery," ujar Roy.

Maka dari itu menurutnya, banyak toko ritel mulai tutup. Meski begitu, Roy mengatakan usai menutup toko, peritel akan merelokasi dan membangun toko yang lebih kecil untuk efisiensi dan mengikuti pola belanja masyarakat.

"Makanya banyak yang tutup, karena polanya nggak kayak 5-6 tahun lalu. Sekarang kita merelokasi ke tempat lebih kecil dan masih jarang pesaingnya. Kalau dulu bangun hypermarket yang luasnya 5 ribuan meter, sekarang paling toko kecil yang cuma 1.500 atau 2 ribu meter saja," ungkap Roy.

"Barang yang dijual pun cuma yang pasti dicari, kayak bahan pokok beras dan lain-lain," lanjutnya.

Apakah tren ritel berguguran berlanjut tahun ini? >>>



Roy mengatakan kemungkinan masih ada toko ritel yang akan tutup tahun depan, khususnya yang berskala besar.

"Selagi masih ada peritel toko besar bisa saja. Kan masih ada yang punya toko gede-gede, nggak banyak lah, tapi pasti ada," ungkap Roy.

Menurutnya, toko ritel harus mengikuti perubahan pola belanja yang ada di masyarakat. Mau tidak mau toko yang besar harus dikecilkan dan direlokasi, demi menghindari kerugian.

"Karena semua mau mengecilkan toko dan merelokasi. Kita juga harus ikuti perubahan pola belanja kan," ujar Roy.

Roy mengatakan strategi utama untuk toko ritel bertahan memang dengan memanjakan para konsumen. Salah satunya, beberapa ritel mulai memberikan jasa layanan antar barang.

"Strateginya bikin toko yang kecil untuk efisiensi. Kita juga mulai buat program khusus buat manjakan konsumen, kaya layanan delivery," kata Roy.

Simak Video "Lord & Taylor Bangkrut Dihantam Pandemi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ara)