Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 06 Jan 2020 20:00 WIB

Ada Apa Sih Ribut-ribut di Natuna?

Anisa Indraini - detikFinance
Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Jakarta - Laut Natuna belakangan ini sedang memanas. 'Primadona' satu ini menjadi sorotan karena dimasuki kapal nelayan China yang dikawal kapal coast guard. Kawasan yang menjadi sorotan ini adalah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Natuna.

Awalnya begini nih. Ada klaim sepihak pemerintah China di wilayah Laut China Selatan. China keukeuh banget wilayah yang dilalui nelayan dan coast guard itu masih teritorinya.

Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Hukum Laut atau United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) menjadi pijakan Indonesia dalam menegakkan kedaulatan wilayahnya di Natuna. Pengadilan Internasional di 2016 menyatakan klaim China atas Nine Dash Line atau 9 Garis Putus-putus yang ada sejak 1947 dinilai tidak mempunyai dasar historis.

Nah, garis Putus-putus menjadi batas teritorial laut Negeri Tirai Bambu ini membentang dari utara, menabrak laut Filipina, terus ke selatan, hingga mencaplok sebagian Perairan Natuna milik Indonesia.

Namun Indonesia tidak mengakui konsep 9 Garis Putus-putus yang dinyatakan China itu. Pijakan hukum Indonesia ada dua. Pertama, Konvensi Peserikatan Bangsa-Bangsa Tentang Hukum Laut pada tahun 1982 atau The United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS 1982). Kedua, putusan Pengadilan Arbitrase Laut China Selatan untuk menyelesaikan sengketa Filipina vs China (South China Sea Tribunal) tahun 2016.


Pemerintah Indonesia juga menolak mentah-mentah klaim sepihak dari China. Menurut pemerintah, semua yang dilakukan China 'jahat' lantaran sudah melakukan pelanggaran yang termasuk kegiatan illegal, unreported and unregulated (IUU) fishing dan kedaulatan oleh coast guard atau penjaga pantai China di perairan Natuna. China yang kamu lakukan itu jahat.

Laut Natuna menjadi primadona bahkan sampai-sampapi diklaim China. Emang ada apa sih? Tidak heran jika laut Natuna direbutkan oleh Indonesia-China, karena di dalamnya ada beragam potensi hasil laut mulau dari cumi-cumi, lobster, kepiting, hingga rajungan.

Cumi-cumi menjadi komoditas laut dengan potensi hasil paling banyak. Setidaknya ada 23.499 ton potensi cumi-cumi per tahun di Natuna.

"Di datanya itu, potensi per tahunnya lobster ada 1.421 ton, kepiting, 2.318 ton, rajungan 9.711 ton. Cumi-cumi paling banyak nih, dia ada 23.499 ton per tahun," ungkap Plt. Dirjen Pengelolaan Ruang Laut (PRL) Kementerian Kelautan dan Perikanan Aryo Hanggono kepada detikcom, Sabtu (4/1/2020).

Beberapa jenis ikan di Kabupaten Natuna, yang potensial untuk dikembangkan antara lain Ikan dari jenis kerapu-kerapuan, tongkol krai, teri, tenggiri, ekor kuning/pisang-pisang, selar, kembung, udang putih/ jerbung, udang windu, kepiting, rajungan, cumi-cumi dan sotong.

Melihat kekayaan alamnya, wajar kan jika banyak kapal asing ilegal di Natuna?

Ada Apa Sih Ribut-ribut di Natuna?

Selanjutnya
Halaman
1 2
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com