RI Bakal Kembali Gelar Forum Pertanian dan Pangan Internasional

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Jumat, 10 Jan 2020 11:02 WIB
Ilustrasi/Foto: Pradita Utama
Jakarta - Indonesia akan kembali menjadi tuan rumah dalam gelaran Asian Agriculture and Food Forum 2020 (ASAFF 2020). Kegiatan ini jadi yang kedua kalinya digelar sejak dilaksanakan pertama pada 2018 lalu.

Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Moeldoko mengatakan acara ini merupakan kolaborasi antarnegara dan antar pebisnis di kawasan Asia untuk membangun kemandirian pertanian dan ketahanan pangan Asia.

"Peran dan posisi Asia dalam produksi pertanian global sangat besar. Kolaborasi akan membangun ketahanan pangan negara-negara Asia dan menjamin ketersediaan pangan dunia," kata Moeldoko dalam keterangannya, Jumat (10/1/2020).


Moeldoko mewujudkan forum pertanian Asia pada 2018 melalui ASAFF 2018 yang dibuka oleh Presiden RI Joko Widodo di Istana Negara dan pamerannya dikunjungi Presiden Jokowi di Jakarta Convention Center (JCC). ASAFF kedua diselenggarakan pada 12-14 Maret 2020 di JCC, dan diharapkan dapat dibuka oleh Presiden Joko Widodo.

Akan hadir juga sebagai narasumber dalam ASAFF 2020 antara lain Kementerian Pertanian dan pelaku bisnis pertanian dari China, Vietnam, Thailand, Jepang, Malaysia, dan lainnya.

"ASAFF adalah event berkala yang menjadi forum pertemuan stakeholders pertanian untuk membahas isu-isu strategis pertanian di kawasan Asia dan membangun kerjasama Government to Government (G2G) dan Business to Business (B2B) dalam kebijakan pertanian, budidaya pertanian, teknologi pertanian, dan bisnis sektor pertanian, dalam arti luas pertanian, perikanan, peternakan," jelas Moeldoko yang juga Kepala Staf Presiden RI.

ASAFF 2020 mengusung tema Asian Agriculture Colaboration in Global Economic Comptetition. Ada tiga hal strategis yang menjadi isu utama dunia saat ini dan ke depan, yaitu pangan, air, dan energi. Ketiga hal tersebut akan menjadi komoditas strategis yang menggeser komoditas-komoditas yang selama ini menjadi isu dunia, seperti minyak bumi dan sumber daya alam.

Pertumbuhan penduduk dunia akan meningkatkan kebutuhan pangan, air, dan energi. Menurut Divisi Kependukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), jumlah penduduk dunia pada 2019 mencapai 7,7 milyar jiwa, tumbuh 1,08% dibandingkan tahun sebelumnya (2018) sejumlah 7,6 milyar jiwa.


Pertumbuhan penduduk rata-rata per tahun 1-1,2% sehingga dalam beberapa tahun ke depan penduduk dunia bakal mencapai 8 milyar jiwa dan tahun 2030 sekitar 8,5 milyar penduduk. Pada tahun 2.100 penduduk dunia akan mencapai 10,9 milyar orang.

"Kawasan Asia memiliki kontribusi terbesar dalam jumlah penduduk dunia. Jumlah penduduk Asia sebesar 4,6 miliar jiwa. Sektor pertanian adalah penyumbang GDP terbesar di kawasan Asia dan menjadi bagian strategis dalam memenuhi kebutuhan pangan Asia," katanya.

"Indonesia dan kawasan Asia memiliki peran strategis mengingat potensi dan sumber daya alam mendukung untuk memenuhi kebutuhan pangan, air, dan energi dunia, khususnya memenuhi kemandirian di kawasan Asia. Indonesia, salah satunya, sedang mengembangkan bio-energy, antara lain mengembangkan bahan bakar Bio Solar B30, di mana sebanyak 30% dalam bahan bakar minyak tersebut bersumber dari pertanian," papar Moeldoko.

Simak Video "Jokowi-Prabowo Siapkan Lumbung Pangan, Antisipasi Krisis Pangan"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/ara)