Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 16 Jan 2020 15:30 WIB

Perang Dagang AS-China Berakhir, Terus Selanjutnya Apa?

Trio Hamdani - detikFinance
Foto: Reuters
Jakarta - Amerika Serikat (AS) telah menandatangani perjanjian dagang dengan China. Namun langkah tersebut tampaknya belum bisa memuaskan seluruh pihak. Bahkan apa yang akan terjadi setelah kesepakatan kedua negara ditandatangani masih menjadi misteri.

Dikutip detikcom dari Washington Post, Kamis (16/1/2020), perang dagang antara AS dan China telah berlangsung selama hampir dua tahun dan membuat kacau perekonomian, termasuk di Negara Paman Sam tersebut.

Kesepakatan yang ditandatangani oleh pada Rabu lalu memang menghasilkan beberapa kemenangan bagi AS. Pasalnya China setuju untuk membeli barang AS sekitar US$ 200 miliar lebih banyak selama dua tahun ke depan, dan perusahaan AS akan mendapatkan lebih banyak akses ke pasar China, dan lebih banyak perlindungan kekayaan intelektual.

Tetapi di sisi lain masih banyak keraguan tentang apakah tarif besar diperlukan untuk sampai kepada kesepakatan tersebut.


Dari perspektif jangka pendek, kesepakatan itu dianggap tidak begitu hebat. Analis menilai tambahan volume pembelian barang oleh China hanya untuk menebus sebagian dampak perang dagang yang menghantam ekonomi AS. Dan sebagian besar pembelian dalam kesepakatan itu, sebenarnya bisa terjadi pada musim panas 2018 lalu tanpa harus Trump menaikkan tarif. Setidaknya begitu penilaian para analis.

Saat itu, China dilaporkan menawarkan untuk membeli lebih banyak barang pertanian, energi dan produk-produk manufaktur, mirip dengan apa yang ada dalam perjanjian ini.

Kembali ke dampak perang dagang, hampir semua orang setuju bahwa itu telah menimbulkan banyak penderitaan bagi perekonomian. Ketika Trump menaikkan tarif ke China, pertumbuhan ekonomi AS melambat, investasi bisnis lesu, dan perusahaan tidak mampu menyerap banyak tenaga kerja.

Gregory Daco dari Oxford Economics dan Moody's Analytics menghitung bahwa perang dagang AS-China memangkas pertumbuhan ekonomi 0,3%, setara dengan US$ 65 miliar pada tahun lalu. Angka tersebut bisa meningkat menjadi US$ 85 miliar pada 2020, karena kesepakatan kedua negara tidak mengakhiri perang dagang. Tarif tetap berlaku pada hampir dua pertiga dari impor China.


Di Gedung Putih, wakil perdana menteri China mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan China akan membeli lebih banyak barang dari AS berdasarkan kondisi pasar. Selain itu banyak ahli mengatakan bahwa petani dan produsen AS hanya akan menjual ke China apa yang akan mereka jual ke negara lain.

China juga telah setuju untuk mencabut pembatasan susu, susu formula, dan daging sapi Amerika, yang memungkinkan petani AS untuk menjual lebih banyak.

Di atas kertas, China mengatakan akan meningkatkan hukumannya untuk pencurian kekayaan intelektual, termasuk denda yang lebih besar dan bahkan hukuman penjara untuk mencegah pencurian. China juga menyetujui nilai tukar berbasis pasar.

Lantas apakah kesepakatan ini akhirnya membuahkan hasil, bergantung pada apakah perusahaan dan petani AS benar-benar mendapatkan lebih banyak akses ke China. Itu masih harus dilihat.


Perang Dagang AS-China Berakhir, Terus Selanjutnya Apa?


Simak Video "Jokowi Antisipasi Dampak Perang Dagang AS-China"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com