Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 23 Jan 2020 16:52 WIB

Ketua MPR Harap Perjanjian Dagang RI-Tunisia Segera Disepakati

Nurcholis Ma - detikFinance
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI BambangSoesatyo (Bamsoet) mendorong perundingan Preferential Trade Agreement (PTA) antara Indonesia dan Tunisia yang sudah memasuki tahap akhir pembahasan bisa segera menemukan titik temu. Sehingga nota kesepahaman atauMoU dapat segera ditandatangani di awal tahun 2020 ini.

"Melalui PTA, Indonesia dan Tunisia akan saling memberikan prioritas dan kemudahan pajak bagi barang-barang produksi kedua negara. Sehingga bisa meningkatkan neraca perdagangan dan volume ekspor," ujar Bamsoet, dalam keterangan tertulis Kamis (23/1/2020).

"Apalagi neraca perdagangan kedua negara selama ini selalu surplus untuk Indonesia mencapai US$ 22,42 juta. Dari total sekitar US$ 87,96 juta, ekspor Indonesia ke Tunisia mencapai US$ 55,19 juta dan impor dari Tunisia sebesar US$ 32,77 juta," imbuhnya.

Saat menerima Duta Besar Tunisia untuk Indonesia, Riadh Dridi di Ruang Kerja Ketua MPR RI, Jakarta itu, Bamsoet memaparkan potensi ekspor Indonesia sangat besar untuk dikembangkan lebih jauh. Antara lain produk CPO dan turunannya, palm, benang, kakao, kopi, serta rempah-rempah seperti pala, lada, dan cengkeh. Posisi Tunisia juga sangat strategis sebagai pintu masuk produk Indonesia ke berbagai wilayah Mediterania dan Uni Eropa.

Menurut Bamsoet, melalui perjanjian Free Trade Agreement yang ditandatangani antara Tunisia dengan Uni Eropa pada 2008, membuat tarif bea masuk barang dari Tunisia ke Eropa menjadi 0%. Hal tersebut membuat 75% pasar ekspor Tunisia membanjiri Uni Eropa.

"Kita bisa memanfaatkan berbagai peluang tersebut, agar produk Indonesia yang sulit masuk ke Uni Eropa bisa mampir terlebih dahulu ke Tunisia. Terpenting kedua negara sama-sama diuntungkan, sama-sama mendatangkan devisa," tandas Bamsoet.

"Pemimpin gerakan kemerdekaan Tunisia, Habib Bourguiba, pernah berkunjung ke Indonesia pada tahun 1951 untuk bertemu Presiden Soekarno. Bahkan Konferensi Asia Afrika di Bandung 1955 turut mendorong kemerdekaan Tunisia. Akhirnya pada 1956, Tunisia bisa memproklamirkan kemerdekaannya dari Prancis. Ini menunjukkan betapa eratnya hubungan kedua negara. Keakraban yang sudah dibangun oleh kedua pemimpin bangsa tersebut harus dilanjutkan oleh kita semua. Selain melalui kerja sama ekonomi, sosial, dan budaya, juga melalui people to people contact," ujar Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini juga memberikan peluang kepada Tunisia untuk aktif terlibat dalam berbagai investasi di Indonesia. Khususnya, di tujuh sektor prioritas seperti infrastruktur, manufaktur, kelautan, pertanian, pariwisata, ekonomi kreatif, dan industri digital.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menekankan, sebagai sesama Anggota Dewan Tidak Tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Indonesia dan Tunisia juga perlu meningkatkan dialog. Sehingga bisa membangun kesepahaman dalam mencari solusi tentang tatanan dunia yang saat ini dipenuhi berbagai gejolak.

"Sebagaimana Indonesia, Tunisia juga banyak dipandang dunia Arab sebagai negara berpenduduk muslim dengan pertumbuhan demokrasi yang relatif stabil. Memang ada saja dinamika yang terjadi, tapi tak sampai mengganggu stabilitas politik dan ekonomi kedua negara. Baik Indonesia maupun Tunisia bisa menjadi contoh dunia bahwa antara demokrasi dengan perkembangan agama bukanlah hal yang harus dipertentangkan, apalagi menjadi sumber perang dan pertikaian," pungkas Bamsoet


Ketua MPR Harap Perjanjian Dagang RI-Tunisia Segera Disepakati



Simak Video "Bamsoet ke Menteri Terpilih: Kerja Lebih Keras Agar Presiden Tak Dikritik"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com