Terjepit BBM, Pertumbuhan Industri 2005 Masih Capai Target
Senin, 28 Nov 2005 16:17 WIB
Jakarta - Meski terhimpit kenaikan harga BBM, bahan baku, upah serta rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL), namun pertumbuhan industri sampai akhir tahun 2005 dipastikan akan mencapai target 6,8 persen sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RJPM)."Pertumbuhan industri manufaktur di luar migas sampai triwulan III-2005 mencapai 6,76 persen. Sehingga kalau dibulatkan menjadi 6,8 persen," kata Menteri Perindustrian Andung A Nitimihardja dalam jumpa pers di Gedung Departemen Perindustrian, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Senin (28/11/2005).Rata-rata pertumbuhan industri sampai akhir tahun sebesar 6,8 persen diperkirakan akan sesuai target, apalagi pada triwulan I-2005 terjadi pertumbuhan industri 8 persen."Kesimpulannya, di saat menghadapi kendala, kita bersyukur sesuai target," ujar Andung.Terjaganya pertumbuhan itu, didorong oleh meningkatnya industri mesin, peralatan, termasuk produk elektronik dan telematika sebesar 12,8 persen. Serta pertumbuhan industri kimia, termasuk pupuk, barang dan karet sebesar 10,7 persen.Sedangkan di luar dua cabang industri tersebut, ada peningkatan industri berbasis agro, seperti makanan dan minuman yang tumbuh 3,7 persen atau lebih tinggi di atas proyeksinya sebesar 3,4 persen.Sampai triwulan-III 2005, realisasi investasi izin usaha tetap Penanaman Modal Asing (PMA) sektor industri tercatat sudah mencapai US$ 3,1 miliar. Angka ini mengalami kenaikan signifikan karena jauh di atas investasi tahun 2004 yang hanya sebesar US$ 2,8 miliar.Minat investasi asing lebih banyak pada cabang industri kimia-farmasi, makanan dan industri logam, mesin, dan elektronik.Sedangkan realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dalam periode yang sama untuk sektor industri mencapai Rp 8,5 triliun. Sampai akhir tahun 2005 target PMDN diharapkan bisa melebihi investasi tahun 2004.Industri PMDN lebih terkonsentrasi pada makanan, karet dan plastik, kertas dan percetakan, industri logam, mesin, serta elektronik.Kredit industri yang telah disalurkan sampai September 2005, berdasarkan data Bank Indonesia (BI) mencapai Rp 168,1 triliun atau naik 24,3 persen dibandingkan September 2004 yang sebesar Rp 135,2 triliun.Sedangkan kredit Usaha Kecil Menengah (UKM) yang disalurkan mencapai Rp 4,7 trilin atau naik 55,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 2,4 triliun.Pertumbuhan rata-rata ekspor industri hingga triwulan III-2005 mencapai 5 persen. Berasal dari sektor makanan dan minuman 43,5 persen, produk baja dan otomotif sebesar 32,1 persen, produk kimia 15,9 persen, elektronik dan telematika 10,5 persen.Untuk impor dalam periode yang sama juga naik 30,6 persen, terdiri dari impor bahan baku atau penolong yang mencapai US$ 34,3 miliar atau naik 30,9 persen, serta impor barang yang naik 35,3 persen dengan nilai US$ 6,1 miliar."Indikasi peningkatan impor sejalan dengan naiknya kredit yang menunjukkan terjadi pertumbuhan kegiatan industri yang cukup berarti," kata Andung.Jumlah tenaga kerja yang terserap industri sampai triwulan III-2005 mencapai 11,65 juta orang dibandingkan tahun 2004 yang sebesar 11,07 juta, atau terjadi penambahan tenaga kerja 580 ribu orang yang naik 5,3 persen.
(ir/)











































