Punya Startup Bejibun, Inggris Pede Cabut dari Uni Eropa

Danang Sugianto - detikFinance
Jumat, 31 Jan 2020 13:50 WIB
Duta Besar Inggris untuk RI dan Timor Leste Owen Jenkins
Dubes Inggris untuk RI dan Timor Leste Owen Jenkins/Foto: Danang Sugianto/detikcom
Jakarta -

Inggris telah mematangkan langkahnya untuk keluar dari Uni Eropa (Brexit). Tepat pada pukul 23.00 hari Jumat waktu setempat, Inggris resmi tak lagi menjadi bagian dari Uni Eropa.

Atas rencana itu Duta besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste yang baru, Owen Jenkins hari ini menggelar konfrensi pers di Kedutaan Besar Inggris, Jakarta, Jumat (31/1/2020).

"Memang minggu ini adalah minggu yang bersejarah bagi Britania Raya, pemerintah kerajaan Inggris dan Uni Eropa. Karena terhitung sejak jam 11 malam waktu Inggris atau tengah malam waktu Brussels atau Sabtu jam 6 pagi waktu Indonesia, Inggris akan secara resmi meninggalkan Uni Eropa," kata Jenkins saat membuka pernyataannya.

Dia menjelaskan keputusan itu merupakan hasil dari pemungutan suara yang dilakukan rakyat Inggris sejak 3 tahun yang lalu. Pihak Inggris pun yakin telah mengambil keputusan yang tepat.

Dari sisi ekonomi, menurut Jenkins negaranya sangat yakin bisa mendapatkan dampak yang positif. Sebab pihaknya merasa Inggris merupakan tujuan investasi nomer satu di Eropa, terutama dari sisi teknologi..

"Inggris adalah tujuan nomor 1 untuk investasi di Eropa. Tingkat investasi ke sektor teknologi kami saat ini lebih baik dari pada negara adidaya teknologi seperti AS dan China," tuturnya.


Jenkins juga menekankan, bukti kemajuan bisnis teknologi terlihat dari jumlah startup teknologi yang sangat besar. Dia mengklaim jumlah startup di kota London paling banyak dari kota-kota lainnya di dunia.

"Tolong dicatat, London memiliki lebih banyak perusahaan startup teknologi dari pada kota-kota lainnya. Jadi kami yakin kemampuan kami untuk mengambil posisi baru kami sebagai negara yang mandiri di dunia," tuturnya.

Menurut data Startup Ranking, jumlah startup di Inggris mencapai 5.183 perusahaan. Inggris menjadi negara ketiga dengan jumlah startul terbanyak di dunia setelah Amerika Serikat dan China.

Jenkins juga menekankan, setelah Brexit negaranya akan semakin ambisius dalam memperluas kerjasama perdagangan global. Britania Raya akan fokus membangun jalinan kerjasama perdagangan baru dengan negara-negara yang lain.

"Kami yakin bahwa Inggris bisa menjangkau dunia, kami adalah negara yang ambisius dengan ide-ide besar. Dipicu dengan ambisi baru dan bertekad untuk identifikasi serta mendapatkan peluang-peluang kerjasama yang baru," tambahnya.


Dia juga menekankan bahwa negaranya tetap memiliki daya tarik yang tinggi. Baik dari sisi budaya hingga pariwisata.

"Sebagai negara kami akan baik-baik saja, dari keindahan Loch Ness hingga misteri stonehenge. Inggris memiliki beberapa landmark atau merek terkenal di dunia, seperti Big Band, London eye, London Camp. Dari kreatif industri kita juga melahirkan tokoh-tokoh seperti Shakespeare, Harry Potter, James Bond, The Beatles, Ed Sheeran dan masih banyak lagi," tuturnya.

"Lebih dari 1,75 miliar orang atau 1/4 dari populasi dunia itu berbicara Bahasa Inggris. Kami memiliki 4 dari 10 universitas terbaik di dunia. Menempati peringkat salah satu tempat terbaik untuk melakukan bisnis dan ekonomi terbesar ke-6 di dunia," tambah Jenkins.

Punya Startup Bejibun, Inggris Pede Cabut dari Uni Eropa


Simak Video "Bagaimana Nasib Inggris Pascabrexit?"
[Gambas:Video 20detik]
(das/hns)