Siapa Bakal Tantang Pertamina?

PSO Berakhir 31 Desember 2005

Siapa Bakal Tantang Pertamina?

- detikFinance
Selasa, 29 Nov 2005 13:47 WIB
Jakarta - Kewajiban PT Pertamina (persero) mendistribusikan BBM (bahan bakar minyak) bersubsidi tinggal sebulan lagi. Kewajiban pelayanan publik (public service obligation/PSO) BUMN migas tersebut berakhir 31 Desember 2005. Lalu bagaimana kah kesiapan para pemain baru?Jika memang tidak siap, bukan tidak mungkin di era liberalisasi sektor hilir migas nanti Pertamina akan kembali mengambil peran yang sangat dominan. Kalau dibilang sih 'monopoli' gaya baru.Mahfum saja, sebab yang saat ini mempunyai fasilitas seperti kilang penyimpanan (storage), kilang pengolahan (refinery) dan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di seluruh Indonesia hanya lah Pertamina.Agaknya Pertamina masih akan mengambil peran penting penyaluran BBM di era liberalisasi sektor migas ini. Isyarat pun sempat diungkapkan Kepala Badan Pengatur Kegiatan Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) Tubagus Haryono.Menurut Tubagus, hingga saat ini, belum ada satu pun perusahaan baik nasional maupun asing selain Pertamina yang siap mendistribusikan BBM bersubsidi di seluruh Indonesia. "Sampai saat ini, belum ada perusahaan yang siap. Kami tidak akan berikan BBM bersubsidi kalau hanya mau menjual di Jawa saja. Tidak berkeadilan namanya," katanya Haryono kepada detikcom dalam sebuah kesempatan.Lalu bagaimana dengan Pertamina? BUMN berlogo kuda laut ini tampaknya tahu betul akan kondisi yang terjadi saat ini. Wakil Direktur Pertamina Mustiko Saleh dan Direktur Niaga dan Pemasaran Pertamina Arie Sumarno merasa optimistis kalau Pertamina akan tetap menjadi pemasok BBM bersubsidi.Kata Arie, Pertamina tetap akan mendistribusikan BBM bersubsidi yang dalam APBN telah ditetapkan sebanyak 41 juta kiloliter untuk tiga jenis BBM yakni premium, solar dan minyak tanah. "Siapa lagi yang siap," tantangnya.Dalam pandangannya, kalau Pertamina mendistribusikan BBM bersubsidi tersebut maka keuntungannya juga akan masuk ke negara, sehingga pada akhirnya bisa menekan subsidi. "Kalau ke swasta apalagi asing, maka keuntungan tidak masuk ke negara. Apa kita mau memberikan subsidi ke perusahaan lain atau asing," tanyanya.Perusahaan yang ingin bergerak dalam bisnis BBM, jangan hanya mau mendistrubsikannya di Jawa saja yang biaya operasinya rendah mengingat tingkat kebutuhan yang tinggi dan kelengkapan prasarananya. "Bagaimana kalau mereka masuk ke Merauke atau daerah terpencil lainnya," tanyanya.Makanya Mustiko berani terang-terangan meminta kepada pemerintah agar Pertamina ditunjuk langsung untuk menyalurkan BBM bersubsidi. "Kita ingin tunjuk langsung dan tidak melewati tender lah," katanya.Melihat kondisi seperti ini, Haryono menilai karena belum adanya kesiapan perusahaan selain Pertamina mendistribusikan BBM bersubsidi tersebut, maka BUMN migas tersebut akan tetap diberi kewenangan mendistribusikannya.Padahal, sudah ada puluhan perusahaan yang memiliki izin dalam bisnis distribusi BBM seperti Shell, Petronas, Caltex, Elnusa, Sigma dan Aneka Kimia Raya (AKR).Tapi masih ada cara lain bagi para peminat tersebut. Jika mereka belum siap, badan usaha di luar Pertamina bisa menyewa SPBU milik swasta. "Karena dari 2.800 SPBU yang ada, Pertamina hanya memiliki puluhan saja, sisanya milik swasta," ujarnya.Well, siapa berminat di bisnis yang 'licin' ini? (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads