Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 11 Feb 2020 17:15 WIB

Corona Lebih Parah dari SARS, Jokowi Minta Menteri Siaga

Andhika Prasetia - detikFinance
Libur Tahun Baru Imlek telah berakhir sejak Senin (10/2) lalu. Warga mulai kembali ke Beijing dengan kenakan masker dan alat pelindung guna cegah virus corona. Foto: AP Photo/Andy Wong
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menaruh perhatian besar atas ancaman dari hebohnya virus corona terhadap perekonomian Indonesia. Seluruh menteri hari ini dikumpulkan khusus untuk membahas hal itu.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, virus corona tentunya akan menghantam perekonomian China. Sementara China merupakan salah satu ekonomi terbesar di dunia. Sehingga berpotensi akan menjalar ke ekonomi dunia termasuk Indonesia.

Nah yang mengkhawatirkan adalah, wabah virus corona jauh lebih besar dari virus SARS. Oleh karena itu dikhawatirkan dampaknya ke perekonomian akan jauh lebih besar. Apalagi ekonomi China kini sudah jauh lebih besar dari saat hebohnya virus SARS.

"Perbedaan situasi antara virus SARS dengan virus corona ini di dalam perekonomian RRT sendiri yang sekarang ini ukuran dari ekonomi RRT jauh lebih besar. Sehingga apabila perekonomian RRT terpengaruh cukup signifikan dari corona virus maka pengaruhnya terhadap region dan global juga akan sangat besar," kata Sri Mulyani di kompleks Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat, Selasa (11/2/2020).

Untuk itu, Jokowi sudah meminta kepada para menterinya untuk melakukan perlindungan atas perekonomian Indonesia dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Meskipun beberapa sektor sudah terkena imbasnya seperti pariwisata, industri hingga harga komoditas.

"Oleh karena itu seluruh kementerian dan lembaga betul-betul diminta untuk melakukan percepatan dari belanja kementerian dan lembaga, termasuk untuk mendukung pariwisata," kata Sri Mulyani.

Sri Mulyani mengatakan hingga posisi 10 Februari 2020 realisasi belanja kementerian dan lembaga di luar belanja pegawai mengalami kenaikan dari periode yang sama tahun lalu. Namun Jokowi belum puas dan meminta agar realisasi belanja untuk terus didorong.

Tujuan mendorong belanja kementerian dan lembaga sendiri untuk mendorong salah satu motor perekonomian yakni konsumsi. Oleh karena itu salah satu yang akan digenjot adalah belanja yang bisa langsung berpengaruh terhadap masyarakat seperti dana desa.

"Sampai dengan tanggal 10 ini sudah Rp 586 miliar dana desa yang sudah kita cairkan untuk lebih dari 1.490 desa. Ini lebih tinggi dari Februari tahun lalu yang pencairannya hanya Rp 317 miliar," tuturnya.

Sri Mulyani pun merinci, total belanja dari kementerian dan lembaga per 31 Januari 2020 sudah mencapai Rp 30,9 triliun. Terdiri dari belanja barang Rp 3,3 triliun, belanja modal Rp 1,9 triliun, belanja Bansos Rp 13,2 triliun, belanja pegawai Rp 12,5 triliun dan anggaran PKH sudah disalurkan Rp 7 triliun dari pagu Rp 29 triliun.

"Bapak presiden juga menyampaikan beberapa hal yang mungkin kita kaji. Pertama apakah bisa membuat kegiatan di pusat tourism yang alami penurunan cukup besar karena corona virus ini. Jadi ini lebih ke alokasi belanja yang bisa dibelanjakan ke sana. Mengenai insentif beberapa hal seperti subsidi ke penerbangan terutama domestik touris dalam rangka meningkatkan belanja dari masyarakat untuk menopang sektor pariwisata," tutupnya.

Corona Lebih Parah dari SARS, Jokowi Minta Menteri Siaga


Simak Video "Pasien Corona di Mamuju Kabur: Dijemput Petugas, Dilawan Keluarga!"
[Gambas:Video 20detik]
(das/das)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com