Susahnya Sembuhkan Macet Jakarta

Anisa Indraini - detikFinance
Sabtu, 15 Feb 2020 11:30 WIB
Kemacetan di Jakarta terparah ke-10 berdasarkan kondisi lalu lintas saat jam sibuk dari 416 kota dari 57 negara di dunia yang disurvei TomTom, 2019.
Ilustrasi/Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Transportasi publik bisa menjadi salah satu pilihan yang digunakan warga Jakarta untuk bepergian. Namun saat ini masih banyak warga Jabodetabek ogah naik angkutan umum dan lebih memilih untuk naik kendaraan pribadi.

Hal itu membuat kemacetan di jalan menjadi tidak terhindarkan. Dari kemacetan itu tanpa disadari membuat kualitas udara semakin memburuk.

Oleh karena itu, penggunaan transportasi umum oleh warga masih jadi pekerjaan rumah (PR) bagi pemerintah. Saat ini penggunaan transportasi umum di Jabodetabek baru 32%.

Pemerintah pun ingin mendorong penggunaan transportasi umum meningkat jadi 60%. Hal itu dikatakan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat membuka rapat koordinasi membahas rencana induk transportasi Jabodetabek (RITJ) 2020.

"Kita memang masih lihat jumlah pengguna angkutan umum belum banyak, baru 32%. Padahal di Singapura, di Jepang 50-60%. Ini akan jadi tujuan utama," ungkap Budi Karya di Hotel Le Meridien, Jakarta Pusat, Selasa (4/2/2020).

Dengan begitu, Indonesia bisa keluar dari kerugian gara-gara kemacetan. Sebelumnya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengungkapkan, Indonesia mengalami kerugian mencapai Rp 100 triliun dari kemacetan.

"Angka itu dikoreksi oleh Pak Wakil Presiden (Jusuf Kalla) dan kami juga angkanya sama, yaitu Rp 100 triliun, bukan Rp 65 triliun lagi, lebih besar," ucap Anies kepada wartawan di Balai Kota Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (9/1/2019).

Kerugian yang diakibatkan kemacetan meliputi kerugian yang ditanggung dunia usaha, produktivitas tenaga kerja, hingga konsumsi BBM kendaraan.

"Keterlambatan atau kemacetan tadi kan membuat biaya logistik jadi meningkat, misalnya delivery barang jadi membutuhkan waktu yang lama, sehingga yang misalnya tadinya dia dalam satu hari bisa kirim 5 kali barang, karena macet jadi cuma 3 kali atau 4 kali. Kemacetan itu membuat semuanya jadi tertunda," kata Ekonom Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus kepada detikcom, Jumat (10/1/2020).

Saat ini kan sudah banyak angkutan umum, kok masyarakat masih banyak yang menggunakan kendaraan pribadi?

Selanjutnya
Halaman
1 2 3