Kepala BPS:
Bulan November Mestinya Deflasi
Kamis, 01 Des 2005 15:03 WIB
Jakarta - Meski inflasi tercatat hanya 1,31 persen, namun pada bulan November semestinya terjadi deflasi. Karena adanya 'anomali' itu, maka BPS mengaku sulit untuk memperkirakan inflasi pada Desember."Itu susah, saya sendiri memperkirakan bulan November deflasi, tapi ternyata naik lagi. Tapi kita tidak tahu persis," kata Kepala BPS Choiril Maksum dalam jumpa pers di kantornya, Jalan DR Sutomo, Jakarta, Kamis (1/12/2005).BPS mencatat inflasi November hanya 1,31 persen, atau turun drastis dibandingkan dengan inflasi pada Oktober yang mencapai 8,7 persen. Angka tersebut juga dinilai lebih tinggi dari prediksi pasar di bawah angka 1 persen.Untuk inflasi tahun kalender 2005 sebesar 17,17 persen merupakan inflasi yang tertinggi dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. Sementara secara year on year tercatat sebesar 18,38 persen."Tingginya inflasi karena masih adanya efek hari raya Lebaran dan sedikit dampak dari kenaikan harga BBM pada Oktober lalu," kata Choiril.Selama November, dari 45 kota, tercatat 44 kota mengalami inflasi dan hanya satu kota yang mengalami deflasi yakni Ternate sebesar 0,28 persen. Inflasi tertinggi terjadi di Bandung sebesar 3,37 persen dan inflasi terendah terjadi di Kediri sebesar 0,14 persen.Inflasi terjadi akibat kenaikan semua kelompok barang dan jasa. Hampir semua produk makanan mengalami kenaikan harga. Sedangkan yang turun harganya hanya minyak goreng dan gula pasir.Meski demikian, inflasi pada November masih lebih rendah bila dibandingkan inflasi pada November 2002 sebesar 1,85 persen. Sementara pada November 2003 sebesar 1,01 persen dan November 2004 sebesar 0,89 persen.
(qom/)











































