Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 20 Feb 2020 12:44 WIB

Minuman Ringan Dibilang Bikin Diabetes, Ini Pembelaan Pengusaha

Soraya Novika - detikFinance
minuman energi rasa soda Ilustrasi/Foto: istimewa
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berencana mengenakan cukai terhadap minuman berpemanis atau minuman ringan. Alasannya, produk minuman berpemanis dianggap sebagai penyebab utama meningkatnya penderita diabetes di Indonesia.

Menurut Sri Mulyani, prevalensi diabetes mellitus di atas 15 tahun meningkat cukup tajam dari 1,5% di 2013 menjadi 2% akibat minuman berpemanis tadi. Hal ini yang kemudian diduga Sri Mulyani menjadi beban bagi keuangan BPJS Kesehatan.

Menurut, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman, pengenaan cukai tak begitu efektif menurunkan angka penderita diabetes di Indonesia. Sebab, perannya terhadap konsumsi total masyarakat Indonesia tak dominan dibanding produk pangan lainnya.

"Peran produk pangan olahan terhadap konsumsi total pangan di Indonesia hanya 30%, jadi kalau tujuan pemerintah mau mengendalikan konsumsi supaya mengurangi PTM dan obesitas, tidak tepat sasaran," ujar Adhi kepada detikcom, Rabu (20/2/2020).

Menurut Adhi, banyak upaya alternatif lainnya yang bisa ditempuh pemerintah bila serius ingin menurunkan angka penderita diabetes tersebut. Upaya-upaya alternatif itu disebut Adhi sejatinya telah ditawarkan pihaknya kepada pemerintah bahkan sebagian sudah dijalankan oleh para pengusaha.

"Kalau untuk upaya menurunkan PTM dan obesitas, kita sudah berupaya membantu pemerintah melalui berbagai cara mulai dari edukasi kepada konsumen, reformulasi produk menyesuaikan dan mendukung upaya mengatasi PTM dan obesitas, serta mencari alternatif pemanis yang lebih baik," paparnya.

Untuk diketahui, rencana pengenaan cukai pada minuman berpemanis ini disampaikan Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI pada Rabu (19/2/2020) kemarin. Dalam pertemuan tersebut, Sri Mulyani mengusulkan minuman berpemanis yang akan dikenakan cukai dibagi menjadi beberapa kelompok, seperti teh kemasan, minuman berkarbonasi, dan minuman berpemanis lainnya.

Adapun tarif cukai yang ditawarkan Sri Mulyani pada produk minuman berpemanis adalah Rp 1.500 per liter untuk teh kemasan. Produksi teh kemasan ini mencapai 2.191 juta liter per tahun, dari total produksi itu potensi penerimaannya mencapai Rp 2,7 triliun. Untuk produk karbonasi, Sri Mulyani mengusulkan tarif cukainya sebesar Rp 2.500 per liter.

Meski demikian, pemerintah juga memberikan pengecualian atau pembebasan cukai terhadap produk minuman berpemanis lainnya seperti yang dibuat dan dikemas non pabrikasi, madu dan jus sayur tanpa tambahan gula, dan barang yang diekspor.



Simak Video "Tiket Pesawat Diskon 50%, Sri Mulyani Ajak Masyarakat Traveling"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com