Cara Biar Kapal Asing Kapok Colong Ikan di RI

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Senin, 24 Feb 2020 10:40 WIB
Menteri Susi, selama ini gencar menenggelamkan kapal maling ikan. Akankah kebijakan ini tinggal kenangan setelah Menko Kemaritiman setop tenggelamkan kapal?
Ilustrasi/Foto: Dok. Humas Kementerian Kelautan dan Perikanan

Kerugian Ekonomi dan Lingkungan

Menurut Sjarief bahwa praktik IUU Fishing di wilayah Samudera Pasifik saja mencapai 4-7 juta ton/tahun dan menyebabkan kerugian ekonomi sebesar US$ 8,3 juta (Konar et al., 2019)

Tak hanya secara ekonomi, negara yang mengalami praktik IUU Fishing juga mendapatkan kerugian terhadap keanekaragaman hayati. Berdasarkan data pencatatan, penangkapan sebelum tahun 2015 menunjukkan bahwa hasil tangkapan udang, kakap, dan kerapu dari Laut Arafura semakin berkurang dan ukurannya pun semakin kecil.

"Contoh lainnya ialah praktik penangkapan ilegal abalon di Chili (Chilean Abalone) yang menyebabkan hutan rumput laut (kelp forest) di sekitarnya mengalami kerusakan. Kondisi ini pun kemudian berimplikasi pada berkurangnya keanekaragaman hayati di laut, salah satunya beberapa jenis ikan di zona bentik," ujar Sjarief.

Sjarief menjelaskan, pemerintah dapat memberikan insentif ekonomi untuk pelaku usaha yang patuh, meningkatkan penegakan hukum dan memperkuat pemerintahan.

Ada beberapa konsep yang dapat dilakukan untuk mencapai hal tersebut. Pertama, pengadopsian transparansi global. Kedua, pengambilan perjanjian kesepakatan di setiap pelabuhan negara. Ketiga, melakukan peningkatan kerja sama regional antar-negara.

"Kita dapat mendorong negara-negara untuk menyampaikan data-data kapalnya. Dengan begitu, kita bisa mengetahui kapal-kapal yang berlayar di laut lepas milik siapa saja, berapa kapasitasnya, di mana dia melakukan operasi, dan di mana dia meletakkan hasilnya sehingga semua dapat terkendali," jelas dia.

Cara Biar Kapal Asing Kapok Colong Ikan di RI
Halaman

(kil/ara)