Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 24 Feb 2020 12:56 WIB

Naik Level Jadi Negara Maju, RI Mau Negosiasi dengan AS

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Airlangga Hartarto Foto: Airlangga Hartarto (Andhika Prasetia/detikcom).
Jakarta -

Pemerintah tak khawatir ekspor Indonesia ke Amerika Serikat (AS) menjadi lebih mahal menyusul masuknya Indonesia dalam kategori negara maju dalam perdagangan internasional.

Dimasukkannya Indonesia sebagai negara maju oleh AS membuat fasilitas Generalize System of Preference (GSP) hilang. Indonesia tak lagi mendapatkan keringanan bea masuk impor barang ke AS.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bea perdagangan internasional akan dibicarakan kedua negara, Indonesia dan AS.

"Kalau biaya ekspor impor ada nanti perjanjian yang sedang diproses itu bisa diselesaikan bilateral. Kita optimis. Kita punya GSP hanya 20%," katanya di BPPT, Jakarta Pusat, Senin (24/2/2020).

Airlangga juga tak khawatir produk Indonesia menjadi mahal karena memiliki daya saing.

"(Mahal) tidak harus. Kita bisa berdaya saing," ujarnya.

Untuk diketahui, Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) baru saja mencoret Indonesia dari daftar negara berkembang dan dinyatakan sebagai negara maju dalam perdagangan internasional.

Selain Indonesia, ada China, Brasil, India, dan Afrika Selatan yang 'naik level' jadi negara maju.



Simak Video "AS Coret RI dari Daftar Negara Berkembang, Airlangga: Kita Bangga!"
[Gambas:Video 20detik]
(acd/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com