Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 26 Feb 2020 12:29 WIB

Jadi Menkeu yang Lawan Arus, Sri Mulyani: Saya Bukan Cheerleader

Hendra Kusuma - detikFinance
Sri Mulyani Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membeberkan upaya-upaya pemerintah menjaga ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang terus datang. Yang paling baru adalah virus corona yang berpotensi mereduksi ekonomi Indonesia sekitar 0,3-0,6%.

Untuk mengatasi risiko penurunan ekonomi itu, pemerintah telah menggelontorkan Rp 10,3 triliun sebagai insentif. Banyaknya insentif yang diberikan membuat Founder & Chairman CT Corpora, Chairul Tanjung (CT) bertanya mengenai sumber dana tersebut ada atau tidak.

"Pertama G20 mengangkat corona is very serious, permasalahannya kuartal I kalau nggak selesai, pemerintah siapkan stimulus. Omnibus law perpajakan kasih potongan, kemudahan, kalau kondisi ekonomi begini, stimulus banyak, duitnya dari mana, kan potong-potong?," tanya CT ke Sri Mulyani dalam acara Economic Outlook 2020 yang diselenggarakan CNBC Indonesia di Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, Rabu (26/2/2020).

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini bilang, pemerintah tidak akan mengencangkan ikat pinggang di tengah ekonomi yang melemah.

Di sini Sri Mulyani juga menjelaskan bahwa dirinya tidak mungkin mengantisipasi ekonomi dunia sedang melemah dengan menahan serta memangkas anggaran belanja. Bahkan, dirinya mengaku akan meningkatkan defisit anggaran guna menjaga laju ekonomi tanah air.

Jika mendukung aksi pelemahan itu, maka dirinya mengaku sama seperti cheerleader atau pemandu sorak yang selalu mengikuti arahan gerakan.

"Kalau saya procyclical, saya tidak jadi Menkeu, tapi cheerleader. Kalau lagi nyungsep, ikut nyungsep. Saya bukan cheerleader, tapi countercyclical. Kayak Anda lagi senang, saya paling tidak populer karena saya pungut pajak dan save untuk nanti. Kalau ekonomi nyungsep lagi saya spend, anda gloomy saya belanja," ungkap dia.

Sri Mulyani menjelaskan dalam APBN 2020 memang tersedia dana cadangan yang disiapkan untuk kejadian yang tidak terduga. Nah, dana itu dimanfaatkan untuk sederet insentif untuk menangkis virus corona.

Insentif yang disiapkan pemerintah sangat penting untuk menyelamatkan ekonomi Indonesia. Sebab dahsyatnya penyebaran virus corona yang melumpuhkan aktivitas dari negara perekonomian terbesar, China akan berimbas terhadap perekonomian dalam negeri.

"Jika pertumbuhan ekonomi RRT turun 1% maka dampaknya ke perekonomian Indonesia sekitar 0,3%. Jadi sekarang kita sedang untuk mengurangi dampak negatif yang kemungkinan bisa menurunkan baseline growth kita hingga ke 4,7%," terang Sri Mulyani.

Jadi Menkeu yang Lawan Arus, Sri Mulyani: Saya Bukan Cheerleader


Simak Video "Nasib Omnibus Law Kini di Tangan DPR"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com