Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 27 Feb 2020 20:30 WIB

Tekor APBN Diprediksi Melebar ke 2,5% di 2020

Hendra Kusuma - detikFinance
Infografis APBN 2018 Ilustrasi/Foto: Tim Infografis: Zaki Alfarabi
Jakarta -

Pemerintah menyebut ada pelebaran defisit anggaran APBN tahun 2020 karena dampak dari merebaknya virus corona. Pemerintah harus menyiapkan dana sekitar Rp 10,3 triliun untuk menangkis virus yang berasal dari China ini.

Untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut pemerintah terpaksa harus melalui penerbitan utang yang otomatis melebarkan defisit anggaran yang sudah ditetapkan 1,76% di APBN 2020.

Lembaga analisis Fitch Solutions memprediksi defisit APBN 2020 Indonesia akan melebar antara 1,8-2,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sepanjang 2019 defisit APBN juga lebih besar dari target yang ditetapkan menjadi 2,2 persen.

Dalam risetnya, Fitch Solution menilai melebarnya defisit disebabkan oleh tiga hal, pertama yakni perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun ini yang hanya 5,1% dari target 5,3%. Di samping itu pemerintah juga menghadapi ancaman penyebaran virus korona.

"Kedua, pandangan kami didasarkan pada penilaian konservatif atas kemampuan pemerintah untuk memperluas basis pendapatan negara di tengah kekhawatiran dampak ekonomi akibat virus korona," kata laporan Fitch Solution yang dikutip detikcom, Jakarta, Kamis (27/2/2020).

Selanjutnya belanja negara diprediksi akan lebih besar dibandingkan pertumbuhan penerimaan. Kondisi ini sebagaimana dampak dari upaya pemerintah untuk menjaga konsumsi tetap tumbuh, demi mencapai target pertumbuhan ekonomi di tahun ini.

Oleh karenanya lembaga yang berbasis di Inggris ini meminta pemerintah untuk meninjau kembali belanja negara akibat penerimaan yang tertekan di tahun ini. Hal tersebut disarankan agar defisit APBN tetap terjaga di bawah 3%, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang.

Menanggapi itu, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menyebut pelebaran defisit anggaran APBN juga dikarenakan rendahnya realisasi penerimaan di awal tahun.

"Pada Januari-Februari, pemerintah sudah melakukan pelelangan surat utang negara. Pada Februari sudah hampir Rp 30 triliun sampai Rp 36 triliun, itu mereka akan lelang. Sehingga awal tahun, sektor pajak pasti rendah," kata Tauhid.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut defisit anggaran tahun 2020 akan melebar dari yang ditetapkan dalam APBN yaitu sebesar 1,76%. Pelebaran defisit dikarenakan pemerintah banyak memberikan insentif di tengah ekonomi global yang melemah.

"Di dalam mengelola kebijakan fiskal, tentu kita ketahui bahwa ada pemasukan dan pengeluaran. Tapi tujuannya untuk kelola ekonomi. Jadi kalau ekonomi turun, penerimaan pajak lemah, kita memang harus siapkan diri untuk tingkatkan defisit," kata Sri Mulyani dalam acara Economic Outlook 2020 yang diselenggarakan CNBC Indonesia di Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, Rabu (26/2/2020).

Sri Mulyani bilang pemerintah tidak akan menahan belanja di tengah ekonomi dunia yang melemah. Bahkan, pemerintah sendiri sudah menggelontorkan anggaran Rp 10,3 triliun untuk sederet insentif. Belum lagi, lewat RUU omnibus law perpajakan banyak pemotongan tarif pajak yang akan mempengaruhi penerimaan.



Simak Video "Gegara Corona, Jokowi Prediksi Defisit APBN Mencapai 5,07%"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com