Fakta Seputar Larangan Truk Obesitas di Jalan Tol Priok-Bandung

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 10 Mar 2020 09:50 WIB
Dalam rangka menciptakan jalan Indonesia bebas truk Over Dimension Over Load (ODOL) Kemenhub melakukan pembatasan jalur yang tegas untuk truk obesitas. Pembatasan truk ODOL diberlakukan mulai hari ini, Senin (9/3/2020) dari tol Tanjung Priok (Jakarta) sampai Bandung.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Kebijakan pelarangan kendaraan obesitas alias over dimension over loading (ODOL) akan dilakukan secara total pada tahun 2023. Meski begitu, dari sekarang Pemerintah mulai membatasi ruang gerak kendaraan obesitas.

Salah satunya, lewat pelarangan melintas pada ruas jalan tol sepanjang Tanjung Priok ke Bandung. Dirjen Perhubungan Darat Budi Setiyadi mengatakan mulai Senin 9 Maret 2020, truk obesitas haram lewat jalur tol tersebut. Larangan ini berlaku selama 24 jam penuh.

"Kebijakan zero ODOL di jalan tol ruas Tanjung Priok sampai Bandung kita mulai 9 Maret 2020 akan berlaku 24 jam. Pokoknya mulai Priok, Cawang, Cikampek hingga ke Bandung itu dilarang," ungkap Budi di Gerbang Tol Wiyoto Wiyono, Jakarta Utara, Senin (9/3/2020).

Budi menambahkan, untuk di jalan nasional hanya truk obesitas yang mengangkut tujuh komoditas pilihan saja yang boleh lewat. Toleransinya pun hanya 50% lebih banyak dari muatan asli truk.

Sementara itu untuk kendaraan di luar tujuh komoditas hanya boleh mengangkut 5% lebih banyak dari muatan aslinya. Muatan asli truk sendiri bisa dilihat dari data di kartu KIR.

"Truk ini pun akan lari ke jalan nasional, nah di jalan nasional kita masih kasih toleransi 50% bagi 7 komoditas yang kemarin minta toleransi sampe 2023. Bagi yang lain lebih dari 5% sudah kita tindak," kata Budi.

Toleransi sendiri diberikan bagi truk yang mengangkut 7 komoditas pilihan. Yakni semen, baja, kaca lembaran, beton ringan, air minum dalam kemasan, pulp dan/atau kertas, serta keramik.

Selanjutnya
Halaman
1 2