Corona Seret Maskapai Penerbangan ke Ambang Kebangkrutan

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 11 Mar 2020 12:12 WIB
Bandara Sepinggan Balikpapan menjadi bandara pertama yang dilengkapi dengan mal di Indonesia. Bandara yang beroperasi sejak 22 Maret 2014 lalu itu terlihat megah. Agung Pambudhy/detikcom.
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Sejumlah maskapai di berbagai belahan dunia telah membatalkan ribuan penerbangannya lantaran dihimpit wabah virus corona (COVID-19) yang semakin hari semakin luas penyebarannya. Namun beberapa maskapai juga terpaksa tetap beroperasi meski mayoritas bangku pesawatnya kosong demi memenuhi hak penumpang yang masih tetap ingin terbang.

Ryanair misalnya, akan menghentikan pelayanannya dari dan ke Itali hingga 8 April mendatang. Hal ini menyusul terjadinya lock down di negara tersebut hingga 4 April.

EasyJet juga telah membatalkan seluruh penerbangannya dari dan ke Italia antara 10 Maret hingga 3 April. Meski demikian akan ada beberapa 'penerbangan penyelematan' dalam waktu tersebut.

NorwegianAir juga telah memangkas sekitar 3.000 penerbangannya dalam tiga bulan ke depan. Itu sekitar 15% dari total kapasitasnya.

"Kami telah berkonsultasi dengan serikat pekerja kami sehubungan dengan pembatalan sementara ini, termasuk ke para kabin crew dan seluruh pekerja di lapangan dan kantor," kata Chief Executive Jacob Schram, seperti dikutip dari BBC, Rabu (11/3/2020).

Selain penerbangan di Italia dan China yang dibatasi perjalanannya dan diberhentikan total, penurunan permintaan penerbangan juga terjadi untuk waktu mendatang. Para konsumen telah banyak menunda pemesan tiket liburannya karena semakin meluasnya penyebaran virus corona.

Demi memitigasi dampak pembatalan penerbangan terhadap bisnis maskapai, Presiden Uni Eropa (UE) Ursula Von der Leyen mengatakan, pihaknya masih mengizinkan maskapai untuk tetap beroperasi meski tidak terbang sesuai rute yang ada.

"Ini adalah tindakan sementara, dan tindakan ini akan menolong baik untuk industri dan lingkungan," katanya.

"Ini akan mengurangi tekanan pada industri penerbangan, khususnya perusahaan penerbangan yang lebih kecil. Tetapi juga akan mengurangi dan menghindari apa yang disebut penerbangan hantu," lanjutnya.

Presiden Korea Air, Woo Kee-hong, mengatakan tidak dapat memprediksi sampai kapan kondisi penurunan penumpang akibat korona bisa bertahan. Proyeksinya, jika virus corona tetap meluas penyebarannya, maka industri penerbangan tengah dalam ancaman yang serius.

"Tetapi jika situasinya berlanjut untuk jangka waktu yang lebih lama, kita dapat mencapai ambang batas di mana kita tidak dapat menjamin kelangsungan perusahaan," tambahnya oleh kantor berita Reuters.



Simak Video "Pondasi Utama Pecegahan Corona Sebelum Vaksin"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)