Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 12 Mar 2020 16:36 WIB

KKP Optimistis Konsumsi Ikan Bioflok Bisa Turunkan Stunting

Reyhan Diandri Ghivarianto - detikFinance
KKP Foto: dok KKP
Jakarta -

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) optimistis dengan manfaat dari sistem budi daya bioflok yang dikembangkan untuk komoditas ikan nila di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Dengan menggunakan teknologi bioflok tersebut, KKP berharap bisa menurunkan tingkat hambatan pertumbuhan tubuh (stunting) bagi masyarakat dengan mengkonsumsi ikan.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto menyatakan bahwa penerapan teknologi bioflok ini ampuh untuk menurunkan stunting. Sehingga dengan semakin banyak anak Indonesia yang mengkonsumsi ikan maka diharapkan ada generasi baru yang tumbuh sehat dan bergizi baik.

"Selain memenuhi kebutuhan gizi dan peningkatan konsumsi ikan nasional, kegiatan ini juga ampuh untuk menurunkan prevalensi stunting atau hambatan pertumbuhan tubuh. Dengan semakin banyak anak Indonesia mengkonsumsi ikan, diharapkan akan lahir generasi baru yang tumbuh sehat, bergizi baik dan bebas dari stunting," ujar Slamet, dalam keterangan tertulis, Kamis(12/3/2020).

Slamet menjelaskan, menurut data sementara dari Badan Pusat Statistik (BPS) angka stunting pada tahun 2019 cenderung mengalami penurunan sebesar 27,7 %, namun angka stunting tertinggi ada di NTT yang mencapai 43,8 %. Oleh karena itu, dengan dikembangkan budidaya nila sistem bioflok di NTT sangat tepat, dikarenakan dapat menjadi solusi untuk memenuhi gizi masyarakat sekitar.

Budidaya ikan nila dengan sistem bioflok yang dilakukan di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini telah menuai hasil yang menggembirakan. Hal ini terbukti dengan panen parsial perdana sebanyak 100 kg ikan Nila yang dilakukan di seminari Pius XII Kisol, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur pada tanggal 2 Maret 2020 yang lalu dan direncanakan hingga akhir Maret total panen mencapai sekitar 300 kg.

Menurut Slamet, penerapan teknologi bioflok pada komoditas ikan nila merupakan sebuah langkah konkrit guna meningkatkan produksi ikan air tawar nasional. Ia juga menegaskan pentingnya membangun kawasan Indonesia Timur, secara khusus daerah - daerah yang masih minim terjamah oleh informasi teknologi.

"Potensi sumberdaya alam yang tinggi di kawasan Indonesia bagian timur harus dapat kita manfaatkan dengan menciptakan alternatif usaha berbasis inovasi teknologi budidaya. Teknologi budidaya ikan sistem bioflok yang diperkenalkan diharapkan akan mampu meningkatkan nilai sumberdaya alam yang ada dan memicu ruang pemberdayaan masyarakat yang lebih luas, serta akan menumbuhkan ekonomi masyarakat lokal," jelas Slamet.

Sebelumnya pada tahun 2019 KKP telah menggelontorkan 260 paket bantuan budidaya ikan lele/nila sistem bioflok yang tersebar di 32 provinsi dan 121 Kabupaten/Kota. Total nilai bantuan yang telah diserahkan mencapai lebih dari Rp 44 miliar.

"Saat ini produk nila telah menjadi sumber gizi yang cukup digemari di masyarakat, untuk itu teknologi bioflok khususnya untuk komoditas nila akan terus didorong di berbagai daerah sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat," imbuhnya.

Sementara itu, penanggung jawab Seminari Pius XII Kisol Marsel Zosimus Erot mengucapkan terima kasih kepada KKP atas kepercayaan yang diberikan kepada seminari yang diasuhnya. Ia juga menyoroti keunggulan sistem bioflok yang minim menggunakan air sangat cocok untuk diterapkan di daerahnya.

"Sebelum kami mengenal sistem bioflok ini, budidaya ikan air tawar seperti nila masih membutuhkan bak permanen dan harus di lokasi yang memiliki saluran irigasi yang baik. Dengan sistem bioflok ini, penggunaan air bisa diefesiensikan, namun disisi lain produktivitas bisa ditingkatkan berkali lipat," ungkap Marsel.

"Kami berharap agar budidaya ikan air tawar sistem bioflok ini dapat semakin diperbanyak untuk dapat memenuhi gizi dan protein masyarakat, khususnya di daerah Manggarai Timur," pungkas Marsel.

Sebagai informasi, kelompok seminari Pius XII Kisol merupakan penerima 2 paket bantuan budidaya ikan nila sistem bioflok dari KKP yang diberikan pada tahun 2019. Bantuan ini diberikan dengan pendampingan langsung oleh Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi. Produksi ikan nila di provinsi NTT pun telah mengalami kenaikan yang cukup signifikan dalam kurun waktu dua tahun yaitu dari 2016 hingga 2018. Sebelumnya pada tahun 2016 produksi nila di NTT hanya mencapai 823,5 ton, sedangkan pada tahun 2018 sudah mencapai 2.834,3 ton atau mengalami kenaikan hingga 3,5 kali lipat.



Simak Video "Rincian Rp 1,24 T, Anggaran Tambahan yang Diminta Edhy Prabowo"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com