Cegah Corona, Pameran Pertanian di JCC Ditutup Lebih Cepat

Vadhia Lidyana - detikFinance
Sabtu, 14 Mar 2020 10:00 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuka musyawarah nasional IX Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) di Istana Negara, Jakarta, Kamis (12/3/2020). Jokowi cerita minum jamu 3 kali sehari karena ada wabah virus Corona.
Ketua Umum HKTI/Foto: Andhika Prasetia
Jakarta -

Gelaran Asian Agriculture and Food Forum (ASAFF) 2020 yang berlokasi di Jakarta Convention Center (JCC), di Kompleks Gelanggang Olahraga Bung Karno, Tanah Abang, Jakarta Pusat ditutup lebih cepat. Langkah itu ditetapkan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) selaku penyelenggara demi mencegah penyebaran virus corona (COVID-19).

ASAFF sudah berlangsung selama dua hari, semenjak dibuka Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Kamis (12/3) lalu. Penutupan ASAFF dijadwalkan pada hari ini, (14/3/2020) pukul 14.00 WIB, namun dipercepat menjadi pukul 09.00 WIB.

"Keputusan ini merupakan tindak lanjut dan merujuk pada Keputusan Presiden Nomor 7 Tahun 2020 yang diterbitkan tanggal 13 Maret 2020," ungkap Ketua Umum HKTI Jenderal (Purn) Dr Moeldoko dalam keterangan resmi yang dikutip detikcom.

Penutupan yang dilakukan lebih cepat ini juga mengacu pada Protokol World Health Organization (WHO) dan Instruksi Gubermur DKI selama pandemi virus corona.

"HKTI memohon maaf kepada seluruh peserta, pengunjung, dan sponsor ASAFF 2020 atas keputusan yang diambil demi kenyamanan dan keamanan bersama. HKTI mengucapkan terimakasih atas dukungan, partisipasi, dan peran serta masyarakat yang telah mensukseskan ASAFF 2020," tulis keterangan tersebut.

Menilik kembali pembukaan ASAFF di Istana Negara, Jokowi sempat menyinggung petani yang gemar menanami lahannya dengan komoditas tertentu seperti sawit dan karet. Padahal Indonesia memiliki peluang besar di buah-buahan tropis. Menurutnya para petani harusnya bisa fokus mencari komoditas yang memiliki ceruk pasar besar.

"Kita juga harus fokus memilih komoditas yang memiliki nilai yang tinggi dan memiliki ceruk pasar yang besar. Komoditasnya dipilih betul-betul. Komoditas jangan yang itu-itu saja," tuturnya saat membuka ASAFF 2020 di Istana Negara, Jakarta, Kamis (12/3).

Padahal menurut Jokowi, buah-buahan tropis merupakan salah satu komoditas yang menjanjikan. Tapi kenyataannya saat ini kebanyakan petani memilih menggarap sawit dan karet dan ketika harganya jatuh, banyak yang terdampak.

"Apa ada sih, saya mau tanya ada yang memiliki 10 ribu ha yang hanya ditanami buah tropis di negara kita? Yang banyak sekarang ini kita tanamnya sawit, ya kan, karet. Dari dulu itu-itu saja yang ditanam. Sawit, karet, nanti pas harganya turun kaya sekarang karet turun, sakit bareng-bareng," tambahnya.

Padahal, lanjut Jokowi, jika urusan pertanian dikelola dengan baik dengan membuat klaster penanaman bisa memberikan keuntungan. Menurutnya banyak dari negara lain yang menginginkan buah tropis Indonesia, salah satunya buah manggis. Namun sayangnya pasokannya tidak ada.

"Buah tropis ini sebetulnya yang diminati oleh negara-negara lain itu banyak. Permintaan yang datang ke saya banyak, misalnya manggis. Ada salah satu, salah dua lah, urus manggis. Permintaan banyak tapi barangnya nggak ada. Banyak sekali permintaan tapi barangnya nggak ada. Kita mau bicara apa. Dari Timur Tengah, Eropa, dari Tiongkok, tapi barangnya nggak ada. Mestinya kan ada," tegasnya.

Cegah Corona, Pameran Pertanian di JCC Ditutup Lebih Cepat


Simak Video "Belasan Hewan Ternak Positif Penyakit Mulut dan Kuku di Tasikmalaya"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ara)