Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 18 Mar 2020 19:10 WIB

RI Dapat Peringkat Layak Investasi, Sri Mulyani: Ekonomi Stabil

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sri Mulyani Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Lembaga pemeringkat internasional Rating and Investment Information, Inc (R&I) menaikkan peringkat utang Indonesia menjadi BBB+/outlook positif dari sebelumnya BBB/outlook stable.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan meningkatnya peringkat Indonesia ini karena pertumbuhan ekonomi yang stabil.

"R&I yang meningkatkan sovereign credit rating dari BBB/outlook stable jadi BBB+/outlook positif faktor pendukungnya adalah karena kebijakan meningkatkan intensi pertumbuhan ekonomi dan politik yang stabil," kata Sri Mulyani dalam video conference, Rabu (18/3/2020).

Menurut dia kondisi defisit, rasio utang yang terjaga, serta cadangan devisa yang memadai untuk utang jangka pendek turut mempengaruhi peningkatan peringkat ini.

"Itu faktor yang membuat credit rating jadi investment grade," jelas dia.

Dalam laporannya, R&I menyatakan bahwa peningkatan tersebut didasarkan atas penilaian R&I tentang kebijakan pemerintah Indonesia untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi yang diharapkan dapat melanjutkan pertumbuhan yang stabil dalam jangka menengah, menjaga defisit fiskal, mempertahankan rasio utang pada tingkat yang rendah, menjaga cadangan devisa yang cukup untuk utang luar negeri (ULN) jangka pendek, dan mempertahankan ketahanan ekonomi terhadap guncangan eksternal melalui kebijakan yang menekankan stabilitas makroekonomi dan disiplin fiskal.

Selain itu, R&I memandang positif upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas belanja untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan memperkuat daya saing. R&I memperkirakan defisit APBN tahun 2020 akan sedikit berada di atas target pemerintah. Namun, R&I percaya bahwa peningkatan defisit tersebut tidak akan mempengaruhi peringkat kredit.

Lebih lanjut, R&I mencermati jumlah obligasi pemerintah yang dipegang oleh non-residen dan ULN dalam mata uang asing yang membuat struktur utang rentan terhadap fluktuasi di pasar keuangan global. Sikap kebijakan yang fokus pada ekonomi makro, stabilitas dan disiplin fiskal, bersama dengan dorongan kuat untuk melakukan reformasi struktural terus menjadi penting.

Kenaikan peringkat utang R&I ini telah mengkonfirmasi kepercayaan R&I dan investor global tentang fundamental ekonomi Indonesia yang kuat. Walaupun penyebaran virus corona diprediksi dapat menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia di bawah 5% pada tahun 2020, R&I tetap berharap ekonomi Indonesia segera pulih setelah pandemi dapat diatasi, mengingat kekuatan ekonomi Indonesia dan lingkungan politik yang stabil. Harapan ini didukung oleh efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.



Simak Video "Nasib Omnibus Law Kini di Tangan DPR"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com