Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 19 Mar 2020 17:29 WIB

Dolar Nyaris Rp 16.000, Bagaimana Utang BUMN?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Gedung Kementerian BUMN Foto: Hendra Kusuma-detikFinance
Jakarta -

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah nyaris Rp 16.000 terkena dampak virus corona. Sore ini, nilai tukar dolar menyentuh level Rp 15.880.

Lalu, bagaimana nasib BUMN yang punya utang dengan mata uang dolar?

Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan, pihaknya masih terus memantau pergerakan nilai tukar.

"Ini kan berdampak terhadap semua, nggak hanya Indonesia, kan semua negara mengalami penurunan. Jadi kita lihat situasi aja dulu. Dari BUMN lihat situasi dulu," katanya dalam teleconference, Kamis (19/3/2020).

Meski begitu, pihaknya tak akan terburu-buru untuk melakukan negosiasi terkait utang BUMN yang menggunakan dolar.

"Nanti panjang, masih nunggu lama situasi, siap-siap sih bisa aja. Tapi kan naik, hari ini naik turun. Kalau nego juga susah, 'Tolong ya negosiasi sekian rupiah', 3 bulan lagi berubah, rugi kita," katanya.

Sementara itu, dia menuturkan, proyek-proyek BUMN masih berjalan. Ia belum mendapat informasi proyek yang terlambat (delay) karena virus corona.

"Belum, masih belum, kita masih hitung terus," ujarnya.



Simak Video "Rupiah Keok Dihajar Dolar AS, Tembus Rp 14.500"
[Gambas:Video 20detik]
(acd/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com