Sejak Darurat Corona, Produsen Vitamin Iklan hingga Puluhan Miliar

Danang Sugianto - detikFinance
Senin, 23 Mar 2020 16:45 WIB
WHO menyatakan virus corona COVID-19 sebagai pandemi. Pasalnya virus corona telah menyebar ke ratusan negara di dunia, tak terkecuali Indonesia.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Sejak diumumkan adanya pasien positif COVID-19 pertama kali di Indonesia, kekhawatiran masyarakat atas kesehatan semakin meningkat. Kondisi ini pun dilihat sebagai peluang bagi perusahaan vitamin, suplemen hingga obat batuk.

Hal itu terlihat dari maraknya iklan vitamin, suplemen hingga obat batuk di berbagai media. Apa lagi sejak banyaknya perusahaan yang menerapkan work from home (WFH).

Menurut data Nielsen, sebuah lembaga yang fokus pada riset media, pada awal Maret kategori vitamin menayangkan 300 spot iklan perhari. Sementara di tanggal 18 Maret iklan kategori produk ini tayang 601 spot per hari dengan total belanja iklan mencapai Rp 15,3 Miliar per hari.

Hal yang serupa juga terjadi pada kategori obat batuk, yang menayangkan kurang dari 50 spot iklan di awal Maret dan meningkat menjadi 180 spot pada 18 Maret dengan total belanja iklan Rp 5,6 Miliar per hari.

Selain di televisi, kategori produk vitamin dan suplemen juga meningkatkan belanja iklannya di media digital. Berdasarkan pantauan Nielsen di Top 200 situs lokal, kedua kategori produk tersebut menggelontorkan total belanja iklan lebih dari Rp 20 miliar pada minggu kedua bulan Maret, naik signifikan yang hanya Rp 6 miliar di minggu kedua bulan Februari.

"Sejalan dengan meningkatnya kasus COVID-19, isu kesehatan menjadi perhatian bagi masyarakat. Ini mendorong para pelaku industri khususnya terkait vitamin dan obat-obatan menangkap peluang untuk meningkatkan penjualan produk mereka, dengan cara menambah spot dan anggaran beriklan baik di media elektronik seperti televisi maupun media digital," kata Executive Director Media Nielsen (Indonesia) Hellen Katherina, dilansir dari keterangan tertulis, Senin (23/3/2020).

Kenaikan belanja iklan itu bukan tanpa alasan. Salah satunya lantaran semakin tinggi masyarakat yang memantau perkembangan COVID-19 melalui media.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Kasus Aktif Covid-19 Indonesia di Bawah Rata-rata Dunia"
[Gambas:Video 20detik]