Petani Gunung Kidul Panen Palawija Bisa Raup Rp 25 Juta/Hektare

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Selasa, 24 Mar 2020 13:09 WIB
Kementan
Foto: Kementan
Jakarta -

Sejumlah Desa di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta menggelar panen raya palawija, seperti kacang tanah dan jagung. Panen ini merupakan panen kedua setelah sebelumnya para petani juga memanen komoditi yang sama dengan hasil yang memuaskan.

Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Saptosari Sriyatun berharap semua hasil panen yang ada dapat dijual ke dalam bentuk wose. Ini karena perhitungan analisa usaha tani dalam satu hektar dengan produksi 16,5 kuintal wose yang dijual seharga Rp 25.000/kg.

"Dari hasil panen ini kami bisa mendapatkan pendapatan bersih sebesar Rp 25.192.000/hektare. Namun jika dijual gelondong kering dengan harga Rp 13.000/kg hanya mendapatkan pendapatan bersih sebesar Rp 19.495.000/hektare," ujar Saptosari dalam keterangan tertulis, Selasa (24/3/2020).

Mengenai hal itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunung Kidul Bambang Wisnu Broto menyampaikan kacang dan jagung adalah dua komoditas unggulan Gunung Kidul yang menjadi andalan kebutuhan nasional.

"Walaupun panennya musim hujan yang tidak menentu, tapi kita harus bersyukur bahwa hasil ini cukup memuaskan. Tentu ke depan, kita akan pacu lagi dengan berbagai program yang ada agar hasil panennya meningkat," kata Bambang.

Bambang mengatakan hasil ubinan kacang yang dihasilkan petani kurang lebih mencapai 16,5 kuintal wose per hektar yang ditanam diatas lahan monokultur seluas 50 hektar.

"Sedangkan untuk jagung ubinan yang ditanam dengan metode tumpang sari di lahan 146 hektare totalnya mencapai 11 kilogram tongkol atau sekitar 9,8 ton pipil kering per hektar," terangnya.

Mengenai hal ini, Sekretaris Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan Bambang Pamuji mengapresiasi hasil panen kacang dan jagung di Kabupaten Gunung Kidul. Sebagai langkah nyata pemerintah, Kementan akan mendorong kelompok tani untuk mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang memiliki bunga rendah, yakni sebesar 6%.

"Kredit ini sangat bagus untuk membantu petani memperluas usahanya. Melalui KUR petani bisa lebih fleksibel membeli kebutuhan khusus nya alat-alat penanganan pasca panen bagi kelompok taninya," ungkapnya.

Dia berharap penggunaan teknologi berupa alat yang modern mampu meningkatkan hasil produksi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan pasar ekspor. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan bantuan benih unggul dan asuransi pertanian.

"Pasarnya terpenuhi dan produksinya meningkat. Disisi lain pemerintah sudah menyediakan layanan KUR dan asuransi. Kita harapkan dapat berjalan secara baik," katanya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Manunggal Karya Kanigoro, Nyoto menambahkan bahwa keuntungan yang diperoleh mencapai puluhan juta rupiah untuk area lahan satu hektar.

"Saya berharap pemerintah mampu menyediakan alat bantu seperti Power thresher Multiguna atau mesin perontok untuk memudahkan produksi dengan jumlah yang banyak," katanya.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo meminta jajarannya agar memantau produksi sektor pertanian selama masa pandemi Covid-19. Memasuki masa panen raya Maret-April, petani harus dipastikan memperoleh juga harga jual yang layak, sehingga terjaga kesejahteraannya.



Simak Video "Kemenkes Sebut Ganja Masih Golongan Narkotika 1"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/hns)