Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 29 Mar 2020 13:07 WIB

Jurus KKP Jika Pandemi COVID-19 Ganggu Ekspor & Budi Daya Perikanan

Yudistira Imandiar - detikFinance
KKP Foto: Kementerian Kelautan dan Perikanan
Jakarta -

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyiapkan sejumlah skenario dalam mengantisipasi dampak pandemi Covid-19 terhadap industri perikanan. Salah satu dampak akibat pandemi virus tersebut yakni penurunan permintaan ekspor ke beberapa negara.

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo tidak menampik adanya sejumlah kekhawatiran mengenai imbas wabah Covid-19 terhadap kinerja produksi dan ekspor perikanan. Hingga saat ini pihaknya terus memantau dan memastikan, sekaligus melakukan langkah-langkah antisipatif jika ada tren penurunan ke depan.

"KKP atau negara akan terus hadir untuk memastikan bahwa produktivitas tetap terjaga karena saat ini produktivitas di sektor perikanan budi daya kita sedang bagus-bagusnya. Kami terus memantau untuk memastikan bahwa perikanan budi daya terus maju," ujar Edhy dalam keterangan tertulis, Minggu (29/3/2020).

Menteri kelahiran Muara Enim, Sumatera Selatan itu menjelaskan permintaan udang dan ikan di beberapa negara menurun sebagai imbas pandemi corona. Amerika, China, dan beberapa negara Eropa, kata Edhy, membatasi impor ikan dan udang konsumsi dari Indonesia karena banyak restoran tutup.

"Nanti jika memang permintaan menurun, kami coba akan siapkan beberapa skenario seperti misalnya Pemerintah membeli langsung (produksi perikanan). Tapi, itu juga kita harus pikirkan ketersediaan coldstorage untuk menampung. Hal ini tentunya akan kami koordinasikan terlebih dahulu dengan Presiden. Menurut laporan yang saya terima, wabah Covid-19 memang ada pengaruh terhadap penurunan permintaan 10-20%, tapi saya rasa ini tidak terlalu signifikan," jelas Edhy.

Berkaitan dengan hal tersebut, Edhy mengatakan pihaknya terus melakukan koordinasi baik di internal maupun eksternal untuk memastikan ketersediaan stok ikan dan aktivitas pembudidaya.

"Saya telah menugaskan Dirjen Perikanan Budidaya untuk mendata potensi udang di masyarakat yang belum terjual dan kepada Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan untuk mendata coldstorage baik yang operasional maupun yang tidak operasional, untuk skenario di atas," imbuh Edhy.

Dampak lain dari pandemi corona, jelas Edhy, yaitu terganggunya rantai pasok domestik. Beberapa wilayah di Indonesia telah membatasi akses keluar-masuk guna mengurangi penyebaran virus Covid-19. Pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak terkait agar logistik penunjang usaha budi daya ikan dan udang tetap bisa tersalurkan.

"Tentu kami akan berkoordinasi dengan pihak terkait agar khusus untuk urusan suplai logistik dan sarana prasarana penunjang usaha tidak dibatasi. Misalnya pengiriman produk ikan, pakan, benur dan obat obatan," katanya.

Sementara itu, Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, menegaskan pihaknya akan terus mendorong produktivitas budi daya, salah satunya udang vaname di beberapa daerah. Ia mengaku telah menyiapkan strategi untuk menggenjot produksi di hulu.

"Kita punya target peningkatan ekspor udang sebesar 250% hingga tahun 2024. Artinya kita perlu optimalisasi lahan tambak yang ada. Daerah-daerah di kawasan pantai Selatan Jawa punya potensi besar untuk kita kembangkan menjadi sentral produksi udang. Namun, tentunya kita harus pertimbangkan daya dukung lingkungannya juga," ungkap Slamet.

Direktur Utama PT Kawan Kita Semua, Dudi Hermawan mengatakan produksi udang cukup tinggi, produktivitas rata rata tambak yang ia kelola mencapai 28 ton per hektare dengan size 20-25 ekor per kg. PT. Kawan Kita Semua merupakan salah satu pengelola budi daya udang vaname di Cidaun, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Dudi mengaku, wabah Covid-19 turut memicu penurunan harga udang di pasar, namun sejauh ini aktivitas ekspor masih cukup stabil sehingga aktivitas ekspor masih mereka jalankan. Ia mengeluhkan kondisi pasar yang kurang menentu dan mengharapkan pemerintah hadir untuk dapat menyelesaikan masalah.

"Ketidakpastian pasar menjadikan kami melakukan panen lebih awal. Kami khawatir pabrik tutup karena pasar yang kurang atau pegawainya yang sudah mulai berkurang. Di sisi lain harga udang menurun sedangkan harga pakan naik," kata Dudi.

"Dengan kedatangan Bapak Menteri (Edhy) ke Tambak Udang Cidaun ini kami sangat bahagia karena Pemerintah memperhatikan kami, Pemerintah hadir di tengah-tengah pembudidaya. Kami harap pemerintah dapat memastikan pasar serta dapat menyerap produksi yang ada di masyarakat. Bila tidak maka kondisi pembudidaya akan semakin terpuruk," imbuhnya.



Simak Video "Rincian Rp 1,24 T, Anggaran Tambahan yang Diminta Edhy Prabowo"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com