Impor Bawang Putih saat Harga Tinggi, Bisa Dijual Rp 30.000/Kg?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Selasa, 31 Mar 2020 09:20 WIB
Bawang putih impor
Foto: Vadhia Lidyana
Jakarta -

Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) untuk 450.000 ton bawang putih sudah terbit. Hal itu diungkapkan oleh Ketua Perkumpulan Pelaku Usaha Bawang dan Sayuran Umbi Indonesia (Pusbarindo) Valentino. Saat ini para importir tinggal merealisasikan impor bawang putih, begitu juga dengan bawang bombai.

"Kementerian Pertanian (Kementan) sudah merilis RIPH tahun 2020 untuk 107 importir sebanyak 450.000 ton bawang putih. Jumlah ini sudah mencapai 80% dari kebutuhan nasional per-tahun. Sudah amanlah. Sementara untuk RIPH bawang bombai, sudah terbit 227.000 ton atau dua kali lipat kebutuhan nasional per tahun," kata Valentino kepada detikcom, Senin (30/3/2020).

Meski sudah mengantongi restu Kementan, masih ada tantangan dalam melaksanakan impor ini karena harga di China melambung sekitar 18%.

"Kendalanya sekarang di China harganya melambung, tadinya US$ 1.100/ton. sekarang sudah US$ 1.300/ton," ungkap dia.

Selain itu, posisi rupiah yang masih lemah terhadap dolar ini menambah beban para importir demi memenuhi stok dalam negeri. Perlu diketahui, sudah sepekan ini nilai tukar rupiah terhada dolar bertahan di level Rp 16.000-an. Pagi ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar berada di level Rp 16.087.

"Ini sangat berat bagi importir. Ditambah lagi Menteri Perdagangan (Mendag) menyatakan relaksasi bebas SPI (Surat Perizinan Impor) dalam Permendag nomor 27 tahun 2020 itu. Lalu, pasar merespons positif. Sekarang harga di dalam negeri kan sudah turun begitu ada pembebasan SPI, direspons seperti itu. Harga modal di China sudah naik, tapi harga dalam negeri turun, rupiah melemah, ya sudah komplit babak belur," jelas Valentino.

Valentino menyebutkan, penyebab kenaikan harga itu karena di China belum memasuki masa panen bawang putih. Saat ini, bawang putih yang diekspor ke Indonesia berasal dari hasil panen Mei-Juni 2019.

"Panen setahun sekali, karena budidaya di China hanya sekali setahun. Kalau di Indonesia kan 4 bulan sudah panen, di sana 8 bulan panennya. Di sana musim tanamnya sekitar akhir September, awal Oktober. Panennya Mei-Juni. Sekarang belum panen. Artinya persediaan bawang putih di sana untuk konsumsi asalnya dari panen tahun lalu," jelas Valentino.

Terlebih saat ini permintaan akan bawang putih dari Indonesia meningkat begitu Kementerian Perdagangan (Kemendag) membebaskan persyaratan Surat Perizinan Impor (SPI) untuk mempercepat pemenuhan stok bawang putih dalam negeri."Mereka tahu di sini lagi dibebaskan SPI, akhirnya berbondong-bondong importir beli.

Artinya, kalau lagi digelontorkan begini, demand kan naik. Ya harga naik. Dan penyimpanan juga nggak banyak," paparnya.

Ia menjelaskan, dengan posisi nilai tukar rupiah saat ini, harga beli bawang putih dari China sekitar Rp 21,45 juta/ton. Artinya, harga belinya sekitar Rp 21.450/kg. Namun, harga tersebut belum termasuk biaya pengiriman, dan lain-lain.

Meski begitu, ia memastikan importir akan menjual dengan harga terjangkau untuk menekan kenaikan harga bawang putih saat ini. Perlu diketahui, berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional, harga bawang putih saat ini masih tembus Rp 45.100/kg.

"Yang penting di suasana corona kita berharap gejolak harga tidak terjadi walaupun di sisi importir berat. Karena harga di China naik, nilai tukar rupiah melemah hingga Rp 16.500, harga di dalam negeri cenderung turun. Ya nggak apa-apa," imbuh dia.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Hakim Tolak Praperadilan Eks Anggota DPR I Nyoman Dhamantra"
[Gambas:Video 20detik]