Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 31 Mar 2020 14:05 WIB

Uni Eropa 'Ribut' soal Sumber Biaya Tangkal Imbas Corona

Vadhia Lidyana - detikFinance
Uni eropa Foto: Kementerian ESDM
Jakarta -

Negara-negara Uni Eropa (UE) berbeda pendapat dalam menyepakati langkah penanggulangan dampak virus corona (COVID-19) terhadap perekonomian UE. Langkah awal UE dalam memitigasi dampak corona yakni berkomitmen memberikan dana bantuan dalam jumlah besar untuk menolong bisnis dan tenaga kerja dari ganasnya dampak virus corona.

Selain itu, batasan defisit anggaran telang dilonggarkan agar masing-masing negara bisa meminjam lebih banyak. Bank Sentral Eropa juga telah mengucurkan ratusan miliar ke pasar untuk mencegah krisis keuangan baru.

Namun, pada diskusi Kamis (26/3) lalu, 9 dari 19 negara pengguna mata uang euro, termasuk Italia dan Prancis mengusulkan bantuan yang dampaknya lebih masif. Negara-negara tersebut meminta UE menerbitkan surat utang untuk menanggulangi dampak corona, yang disebut corona bonds.

"Kasus dengan instrumen umum ini sangat kuat, karena kita semua menghadapi goncangan simetris eksternal, di mana tidak ada negara yang bertanggung jawab, namun konsekuensi negatifnya ditanggung oleh semuanya," kata para pemimpin 9 negara, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam sebuah surat seperti yang dilansir dari CNN.com, Selasa (31/3/2020).

"Dan kami bersatu, secara kolektif dan bertanggung jawab atas respons efektif Eropa," lanjut bunyi pernyataan pemimpin 9 negara dalam surat tersebut.


Namun, pandangan berbeda datang dari Kanselir Jerman Angela Merkel, didukung pemimpin Austria dan Belanda. Mereka menolak penerbitan surat utang di level UE karena khawatir hal itu berdampak pada pembayaran pajak yang lebih besar dan ditanggung seluruh anggota, termasuk negara yang lebih miskin.

"Kami Jerman menjelaskan dengan baik, begitu juga dengan negara lain, bahwa (penerbitan surat utang) ini bukan pendapat semua negara (anggota UE)," tegas Merkel pada Jumat (27/3) lalu.

Meski para ekonom sudah mengusulkan penetapan tingkat bunga pinjaman yang wajar bagi negara-negara yang terpapar corona paling parah seperti Italia dan Spanyol, namun Merkel dan 9 negara lain masih menolak penerbitan surat utang tersebut.

Angela Merkel dan negara yang menentang lainnya justru mengusulkan kucuran dana sebesar € 410 miliar atau US$ 454 miliar, sekitar Rp 7.425,8 triliun (kurs Rp 16.356) yang tersisa di European Stability Mechanism (ESM). Dana itu merupakan dana talangan yang dikumpulkan untuk membantu negara-negara selama krisis utang UE 8 tahun yang lalu.


Namun, negara-negara di selatan Eropa marah akan ide tersebut, yang menganggap penggunaan dana di ESM lebih hemat dibandingkan menerbitkan surat utang. Sementara dana itu masih terkait dengan pinjaman bailout ke Yunani, Siprus, Portugal dan Irlandia.

Dengan berbagai pertentangan tersebut, seorang diplomat Eropa mengungkapkan bahwa Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte dan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez sangat marah. Pasalnya, hingga kini tak ada langkah-langkah definitif untuk membantu pemulihan dari corona.



Simak Video "Pasien Corona di Mamuju Kabur: Dijemput Petugas, Dilawan Keluarga!"
[Gambas:Video 20detik]
(hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com