Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 06 Apr 2020 09:31 WIB

Mudik di Tengah Corona Bisa Bikin Ekonomi RI Pontang-panting

Anisa Indraini - detikFinance
Penumpang menaiki bus Antar Kota Antar Provinsi di Terminal Pulo Gebang, Jakarta, Minggu (29/3/2020). Kementerian Perhubungan mengimbau agar warga membatalkan niatnya pulang kampung, untuk mencegah penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/foc. Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
Jakarta -

Penyebaran virus corona meluas. Jumlah pasien positif terus bertambah, begitu pula dengan korban meninggal.

Di tengah wabah seperti ini, pemerintah masih memperbolehkan warganya untuk modik. Kebijakan ini berbanding terbalik dengan imbauan untuk diam di rumah demi social distancing.

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) melakukan survei terhadap masyarakat terkait kinerja pemerintah dalam menangani virus corona (COVID-19).

Survei ini menggunakan data analyst yang dikumpulkan dari pengguna Twitter yang membicarakan virus corona sebanyak 145.000 orang dan enam portal berita online terbesar. Data tersebut diamati sejak Januari-Maret 2020.

Hasilnya, dari 135.000 masyarakat yang telah disaring menunjukkan sentimen negatif sebesar 66,28% terhadap pemerintah. Salah satu alasannya karena pemerintah dinilai tidak konsisten dengan perkataannya sendiri dalam menangani pandemi ini.

Peneliti Senior INDEF Didik Rachbini mencontohkan soal Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dipilih pemerintah untuk menekan angka penyebaran corona. Tetapi di sisi lain pemerintah malah memperbolehkan mudik yang dianggap sebagai sumber penularan.

"Saya nggak ngerti PSBB itu, pemerintah bilang PSBB tapi boleh mudik. Apa pemerintah ngerti? PSBB tapi boleh mudik kan kacau. Pemerintah membolehkan orang berbondong-bondong untuk mudik, di bus-bus itu lah peternakan virus corona nanti," kata Didik melalui telekonferensi, Minggu (5/4/2020).


Menurut Didik, pemerintah harus memperbaiki komunikasi antar kementerian dan lembaga dalam menangani virus corona. Sehingga dapat memperbaiki sentimen negatif yang timbul di masyarakat.

"Sebelum ada PSBB itu sekolah sudah tutup, sebelum ada PSBB orang sudah di rumah saja. Kalau PSBB saja rakyat itu tidak mengerti, harus lebih dirinci. Sentimen negatif dari masyarakat itu dari komunikasi (pemerintah) yang tidak dimengerti. Saya saja nggak mengerti apalagi rakyat," sebutnya.



Simak Video "Warga Solo Silaturahmi ke Kerabatnya yang Dikarantina"
[Gambas:Video 20detik]
(ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com