Bulog Mau Impor Beras Awal 2006
Senin, 12 Des 2005 18:22 WIB
Jakarta - Meski kekisruhan masalah impor beras belum usai, namun Bulog mengisyaratkan akan kembali melakukan impor beras selama tiga bulan pertama tahun 2006. Impor itu tetap mengatasnamakan pengamanan cadangan pangan nasional Keputusan impor beras itu rencananya akan diambil dalam rapat Dewan Ketahanan Pangan yang dipimpin oleh Mentan Anton Apriantono pertengahan pekan ini."Pemerintah tak mau ambil risiko terjadinya kekurangan stok pangan. Karenanya menugaskan Bulog menjaga stoknya tetap aman diatas 1 juta ton," ujar Dirut Perum Bulog Widjanarko Puspoyo usai diterima oleh Wapres Jusuf Kalla, sore ini di Kantor Wapres, Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta.Hingga akhir tahun 2005, stok beras nasional diperkirakan sekitar 960 ribu ton. Jumlah tersebut sudah termasuk 70 ribu ton beras hasil impor. Untuk keperluan beras miskin (raskin), sebanyak 320 ribu ton akan dikeluarkan sepanjang Januari hingga Februari. Artinya pada bulan Maret hanya tersisa cadangan 640 juta ton. Jauh dari batas aman 1,1 juta ton. Situasi demikian dikhawatirkan menimbulkan kelangkaan beras sehingga memicu kanaikkan harga beras di pasar. Pada gilirannya, akan menambah inflasi. Menambah cadangan dengan beras produksi dalam negeri, masih sulit dilakukan. Pasalnya, selama Desember-Januari merupakan masa paceklik. Bila ada panen, masih terjadi sporadis. Apalagi dalam musim penghujan, gabah semakin susah dikeringkan. Itu pun habis terkonsumsi untuk masyarakat tani sendiri. Karenanya pada Februari diperkirakan pasokan dalam negeri pada Februari paling tinggi hanya mencapai 15 ribu ton saja. Baru mulai Maret, kemungkinan ada sekitar 250 ribu ton beras dari seluruh Indonesia."Soal impor, itu adalah kesepakatan rapat dewan ketahan pangan. Saya tidak mengajukan. Tapi yang pasti prioritasnya, kita tetap akan beli dalam negeri. Kalau belum cukup, baru kita prioritaskan impor," tambah Widjanarko.Ia menegaskan impor dilakukan demi menjaga harga beras di pasaran. Sama sekali tidak mengancam nasib petani. Di satu sisi, petani adalah net konsumen beras. Bahkan, sekitar 58 persen beras raskin diserap oleh kalangan petani.Persoalannya adalah bagaimana Bulog tetap bisa membeli gabah petani dengan harga tinggi sambil mencegah melonjaknya harga beras. Dengan demikian, masyarakat kecil tetap dapat membeli beras dengan harga terjangkau."Mereka (petani dan rakyat miskin) harus diproteksi dengan harga beras yang tidak tinggi," tambahnya.
(qom/)











































