Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 09 Apr 2020 15:02 WIB

Warga Ramai-ramai Jual Emas, tapi Tak Sebanyak Saat Krisis 1998

Trio Hamdani - detikFinance
Penjual menata perhiasan emas di Cikini Gold Center, Jakarta, Senin (24/11/2014). Realisasi ekspor produk perhiasan Januari-Agustus 2014 secara mengejutkan mencapai US$ 3,17 miliar atau sekitar Rp 38 triliun. Capaian ini naik hingga 100% dibandingkan tahun sebelumnya pada periode yang sama. Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Naiknya harga emas saat pandemi COVID-19 dimanfaatkan warga untuk mencari keuntungan dengan menjual perhiasan. Warga menjual emas untuk mendapat untung karena harga sedang naik.

Menurut Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (APEPI) Iskandar Husein fenomena yang terjadi saat ini wajar karena harga emas sedang naik. Masyarakat yang saat ini jual emas pun tidak sebanyak seperti waktu krisis 1998.

"Bahwa untuk kali ini perhiasan emas yang dijual kembali ke pedagang tidak sebanyak pada waktu krisis moneter tahun 1998," kata dia saat dihubungi detikcom, Kamis (9/4/2020).

Dia juga menjelaskan perbedaan warga yang kini ramai-ramai menjual emas dibandingkan waktu krisis 1998. Mereka yang menjual emas karena desain yang sudah kuno.

"(Emas yang dijual) umumnya perhiasan, biasanya yang desainnya sudah tertinggal dan masyarakat menunggu harga turun untuk dibeli kembali. Beda dengan krisis moneter 1998, emas dijual untuk keperluan sehari-hari," jelasnya.

Pengusaha emas pun sudah menyiapkan skenario jika nantinya terjadi rush alias orang berbondong-bondong jual emas seperti 1998 lalu.

"Pada waktu 1998 kan juga tidak ada masalah yang berarti, emas yang dijual kembali tetap dapat diterima. Karena kalau sampai ada rush seperti 1998, kami dari asosiasi emas akan menggunakan skenario yang sama seperti krisis 1998 lalu," tambahnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, aksi jual emas terjadi di Tegal. Sebab harga emas sudah melambung jauh dari harga beli.

"Mumpung lagi naik harganya, saya jual saja emasnya. Saat beli enam tahun lalu, sebesar Rp 385 ribu per gramnya. Karena lagi butuh saya jual perhiasan seberat 3 gram dihargai Rp 610 ribu per gramnya," ungkap Rohyani (38) warga Tegal, usai menjual perhiasan, Kamis (9/4/2020).

Dengan menjual 3 gram perhiasan yang dibeli enam tahun silam, Rohyani mengaku membawa pulang uang sebanyak Rp 1.830.000. Ibu ini menjelaskan, uang hasil jual emas ini akan dipakai untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga.

"Selama isolasi ini kan usaha sedang turun. Pendapatan juga kurang, jadi saya jual untuk makan harian. Mumpung harga mahal," sambung Rohyani.



Simak Video "Perhiasan Emas Buatan Indonesia, Malang"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com